Abu-abu, Monyet dan Golput

image

Sudah 100 hari atau mungkin lebih, presiden ke 7 indonesia sudah dilantik, dan mulai bertugas. Tapi perdebatan dan opini yang mengekor belum juga berhenti. Jika bertanya apa yang sudah dikerjakan, maka jangan tanya pada saya, karna saya bukan dia, jadi tak bisa menjawab. Saya juga tak ingin menanyakan apa yang sudah dia kerjakan, karena mengurus Indonesia itu susahnya tingkat dewa, karena itu saya tidak habis pikir kenapa ada orang yang mau jadi presiden.
Saya tidak ingin membahas tentang Bapak presiden itu, yang memang saya anggap keren, karna saya mengenal namanya pertama kali dari majalah musik ternama, bagi saya, dia yang saat itu walikota di ulas di majalah musik dan belum pernah ada  (atau mungkin saya belum baca) walikota lain yang dibahas di majalan musik, tapi belakangan ini kembali pada kesimpulan biasa saja. Semua orang bisa masuk majalah itu jika majalah itu mau memuatnya.
Saya menulis ini karena besok adalah hari senin yang artinya aka nada upacara bendera, dan tiba-tiba saya membaca sebuah ulasan dari seorang pablik figure yang asik, keren, ganteng, imut, dan tenar (kalo tidak tenar bukan public figure namanya), dengan tulisan mengenai Golput, abu-abu dan monyet.
Saya bingung memulai dari mana seperti kebingungan saya, kenapa lebih mudah menemukan mini market daripada menemukan tukang tambal ban. 
Baiklah saya akan mulai sedikit dari abu-abu, abu-abu sebuah warna yang karna terjadi dari percampuran putih dan hitam, dan setelah dia menjadi abu-abu, maka dia warna sendiri atau bisa dibilang menjadi marna baru.
Tapi, sialnya si abu-abu selalu diidentikkan dengan ragu-ragu (mugkin karna sama-sama ada “u” disana).  Walau dengan keragua-raguannya pun saat dia menjadi abu-abu maka dia telah membuat pilihan atas warnanya sendiri.
Saya tidak tau kenapa dan sejak kapan percampuran hitam dan putih itu disebut abu-abu, dan siapa pula yag menyeretnya ke sifat manusia, walau saya lebih suka menyebut orang-orang seperti itu sebagai opurtunis, orang yang bisa mencari kesempatan, dan pintar memposisikan diri untuk kesempatan itu. Tapi bukankah itu bagian dari sifat orang sebagai manusia.
Kembali ke abu-abu, walau sudah berdua Si Abu-abu ini masih saja di oyak-oyak, saat dia sendiri nasibnya lebih naas, di pakai menggosok gigi (sebelum ada pasta gigi), dipakai mencuci piring, abu mulai langka setelah pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke gas 3kg.
Apa yang menghubungkan Si Abu-abu ini sama monyet? Jawabannya adalah alladin. Abu adalah monyet milik aladin, jika tidak percaya silahkan cari film kartunnya, dan jika sudah berhasil menemukan tolong berikan ijin saya untuk mengcopi.
Saya tidak akan banyak bicara tentang monyet karna saya tidak mau  si orang hutan (kakak dari si monyet) marah, apalagi orang hutan adalah biatang kesayangan dan sangat diliindungi. selain itu juga karena manusia merupakan hasil evolusi dari  saudara si monyet yaitu kera, dan yang tidak kalah penting karna “mereka bilang saya monyet” (Djenar mahesa ayu).
Jadi saya akan lari ke Golput saja. Golput (Golongan Putih). Golput mulai pada pemilu 1971, ini merupakan sebuah sikap protes, bukan untuk kepentingan politik, tetapi sebuah usaha melahirkan tradisi dimana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apapun. Tentu saja pada saat itu, gerakan Golput sangat Subversip (jaman Orba gitu loh…) melihat bagaimana sepak terjang Rezim itu membungkam perbedaan pendapat.
Membercetap tulisan karna saya tidak mau ayam terbangun dan tahu saya belum tidur.
Golput semakin ramai di era kebebasan berbeda pendapat, hal ni bisa dilihat dari pemilu-pemilu tahun 2004 tingkat golput diperkirakan sampai 24 persen  dan 2009  sampai 27 persen serta  2014 kurang lebih mencapai  29persen. Lalu apakah peningkatan Golput membuat Indonesia tidak memiliki president, tentu tidak, anjing menggonggong kafilah berlalu, yang golput tetap golput, yang jadi presiden tetap melenggang ke istana.
Apa yang membuat mereka Golput, banyak hal. Mulai dari korban prosedur administrasi, siap apatis dan tidak percaya, terlambat bangun, dll. Lalu apakah mereka menjadi abu-abu? Atau mereka menjadi monyet??
“kalau tidak ada yang bisa di percaya, ngapain repot-repot ke kotak suara? Dari pada nanti kecewa?” kata KH Abdurrahman Wahid.
Memilih itu masalah kepercayaan, apakah anda percaya dengan calon yang diajukan dan harus dipilih. Kepercayaan itu masalah sangat personal, apa yang saya percayai belum tentu anda percayai. Dan jika kemudian saat anda percaya dan memilih, bukan berarti saya juga harus percaya dan memilih. Karna jika setiap orang harus memilih maka apa bedanya dengan rezim dahulu, bedanya mungkin dahulu dengan tekanan penguasa, tapi kini dengan opini penyematan kata abu-abu atau kata negative lain sebagai bentuk sangsi social buat mereka yang golput.
Tidak semua orang golput itu opurtunis, jika “benar” dan “salah” tidak bisa terjadi pada saat bersamaan, lalu apa tidak boleh seseorang tidak mempercayai “benar” dan “salah” yang ditawarkan. Hanya karena kini anda percaya pada salah satu calon, bukan berarti semua harus percaya juga pada salah satu calon yang ada. Sama seperti jika anda dahulu golput karna apapun itu alasannya, lalu kini memilih untuk memilih salah satu calon itu adalah pilihan sikap anda, dan bisa jadi orang yang dulunya pergi ke kotak suara untuk memilih, kini memilih untuk Golput.

image

Saya adalah yang memilih tetap golput, kenapa?? pertama karena saya masih  tidak percaya pada calon yang ada. Kedua, karna jauh-jauh hari sebelum Pemilu saya telah menggunakan kaos (buatan seorang sahabat) denga tulisan di dada AKU ABSTAIN, Memilih untuk tidak memilih. Itu alasan aslinya, lalu bar-baru ini saya mengetahui beberapa sahabat yang memutuskan memilih mungkin bukan karena kepercayaan, tetapi ketakukan akan kemungkinan rezim lama bangkit, dan akan sangat tidak asik jika harus kembali melawan musuh yang sama (mungkin tidak akan jauh beda dengan serial Tom and Jery).
Lalu apakah saya tidak boleh protes? Apakah orang-orang golput itu tidak boleh protes? Golput itu protes, jadi dari awal Golput itu sudah protes dan protes tidak hanya milik mereka yang pergi ke TPS untuk memilih presiden. Kita semua bayar pajak, orang golput mungkin lebih taat bayar pajak dari pada mereka yang memilih. Mulai dari pajak pendapatan, lalu kendaraan, sampai makanan bahkan kini untuk parkir pun kita harus bayar. Lalu setelah semua jerih payah kita dipotog untuk Negara, apa kita tidak pantas untuk protes??
Dan jika bicara masalah protes, semua punya alasan untuk memprotes, si pemilih yang pilihannya menang punya beban paling berat, punya suara paling keras untuk memprotes jika presiden tidak melakukan seperti yang di janjikannya. Yang pilihannya kalah, punya hak protes, karena pikiran coba calonnya menang pasti akan lebih baik (walaupun bisa jadi lebih buruk :P) dan kami yang golput juga punya hak protes, karna dari awal sudah tidak percaya pada pilihan tersebut.
Pajak adalah bentuk kontribusi paling sederhana untuk Negara, dan jika melihat besar pendapatan dengan pengeluaran dan pajak yang diambil dari setiap kebutuhan oleh pemerintah maka tidak ada salahnya kami protes.
Celebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu ( maaf bahasa bali, artinya kurang lebih, bumi luas ada banyak orang). Walau bumi luas bukan berarti harus bikin pulau baru, kalo mau udah pulau buru aja.
Jika dahulu sebuah Golput menjadi sebuah sikap untuk melahirkan perbedaan pendapat, maka jangan disaat kini kita bebas berpendapat, lalu Golput dianggap sebagai sesuatu yang abu-abu dan tidak punya sikap atau bahkan “menyepekkan” (mengucilkan) orang yang golput. Hanya karena kita sudah memilih untuk tidak Golput. Apalagi jika itu dilakukan oleh seorang yang sepakat bahwa perbedaan sikap serta perbedaan pendapat itu penting.
Si ayam sudah bangun, tanda hari menjelang pagi, dan besok aka nada banyak warna, merah, hijau, kuning, biru, putih, hitam, dan abu-abau. Mereka ada untuk memenuhi pikiran kita kalo hidup itu penuh warna, hudup itu ber warna-warni, dan tak ada abu-abu, tak ada awan mendung, tak ada mendung tak ada hujan dan hujan itu penting tidak saja untuk Payung (Teduh) dan (bayu) Cuaca, tetapi juga penting untuk Tanam Saja………
Mari jangan lupa, berbeda itu indah,bukankah itu yang diinginkan dan dirindukan dari dahulu…. tak masalah kita berbeda dalam pilihan, yang penting tetap pekedek, pekenyum, dan penekang slokine pang sing meakah* (SALING TERTAWA DAN TERSENYUM BERSAMA SAMBIL MENGANGKAT GELAS BIAR TIDAK BERAKAR).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s