Antara sebuah kata keren bernama Illegal dan Galery

image

Saya tidak suka hari senin, terjemahan dari lagu barat yang saya lupa apa nama band ataupun biodata mereka (maklum bawaan umur). Tapi hari senin ini adalah hari yang gatal, gatal karena tiba-tiba telah siang dan semua menjadi terburu-buru, lalu tiba-tiba gelap dan semua menjadi pelan. Mulai dari jaringan internet, data yang di upload dan lain-lain,disaat seperti itu tiba-tiba rasa gatel ini membuat saya mencari tahu tentang acara seorang kawan yang (mohon maaf sebesar-besarnya) saya lewatkan. Illegallery!!.

Dari namanya kesan yang pertama saya dapatkan adalah liar. Illegal adalah kata yang sangat gagah dikalangan anak muda, kata yang menggambarkan pemberontakan. Walau tidak sampai membuat merinding, illegal adalah kata yang keren karena merupakan perlawanan kata legal (kita semua tahu itu, jadi santai saja). Sebenarnya saya tidak terkejut karena kebetulan saya tahu sedikit tentang yang memberi undangan Illegalery dan kenapa memilih kata tersebut.

Pinggang saya juga sedang memasuki fase-fase yang gatal dan menjadi berbahaya jika harus menggaruknya karena akan memperbesar masalah.

Saya percaya pemilihan kata bisa menjadi strategi untuk menarik perhatian public (kasarnya marketing) dan kata yang menggambarkan perlawanan atau kata yang menurut saya dianggap negative oleh public seperti kata Illegal adalah sebuah kata yang bagus untuk menarik perhatian dan mungkin sedang trendy di Bali

Tetapi seberapa ilegalkah sebuah acara yang menggunakan kata illegal itu, itu yang masih menimbulkan tanya, karena ditengah masyarakat yang penuh curiga seperti di Bali, membuat keramaian tanpa seijin tetangga atau lingkungan dan lain-lain yang mengekor mungkin bisa menimbulkan sedikit persoalan yang rumit. Tetapi jika ternya ta kata illegal itu sama dengan tanpa ijin dari siapapun (orang) baik yang punya tempat ataupun tetangga dan linkungan mungkin memang akan menjadi keren. (Kata mungkin karena keren itu relative, karena kembali pada karya apa yang dibuat dan dimana ruang kosong itu berlokasi).
Lalu kata Gallery yang mengekor, gallery sendiri sepengetahuan saya merupakan sebuah tepat formal yang sialnya mereka sangat legal. Saya sedang membayangkan sebuah tempat legal yang illegal atau sebuah tempat illegal yang legal. Mari ikut membayangkan.

Saat gatal, angin yang berhembuh adalah sebuah penyiksaan, apalagi jika kita tak bisa menggaruk sisi yang gatal tersebut.

Saya membuka undangan Illegallery yang dibagikan, “sebuah perwujudan membangun Gallery dengan pola illegal dengan merespon/menduduki gedung yang tidak dipakai lagi” begitu kurang lebih pengantar dibawah tulisan Illegallery.

Lalu apakah di Bali masih kekurangan Galery? Sebuah pertanyaan muncul. ada banyak gallery baru dan lama ada dan tumbuh di Bali, atau bahkan ruang-ruang alternative yang tiba-tiba bisa berubah menjadi gallery hanya untuk memberi ruang pameran para sahabat atau kerabat yang memiliki karya untuk dipamerkan. Mulai dari Galeri yang menggunakan system kurasi yang ketat sampai yang tempat yang benar-benar memberikan kebebasan kepada para pembuat karya seni.

Kegatelan ini membuat saya coba melogika disana sudah sangat jelas mereka sebenarnya ingin mewujudkan gallery, sayangnya belum bisa terwujud, sehingga karena alasan yang entah apa mengambil jalan menduduki bangunan orang secara illegal untuk menjadikannya gallery.

Saya, bahkan sebelum saya gatal pun memilih bersikap, dari pada menciptakan yang baru yang akhirnya menjadi sampah, lebih baik memanfaatkan yang lama. Sangat disayangkan sekali jika gallery-galery lagi dan lagi dibuat, terus bertambah banyak, lalu apa bedanya dengan partai politik?

Tidak bisa dipungkiri mungkin ini menjadi alternative bagi para pekarya seni atau individu yang membuat karya (yang dimasukkan sebagai karya seni) yang menurutnya pantas dipamerkan dan memiliki kerinduan dan keinginan untuk bermain di gallery tetapi enggan melewati jalur birokrasinya, dan bisa di coba buat mereka yang benci-benci tapi rindu sama gallery.

Lalu kenapa tidak mencoba menggunakan ruag-ruang yang ada, membawa karya-karya yang telah berhasil dibuat, walaupun karya itu seandainya berbeda dari karya yang biasa dipamerkan di gallery-gallery, bukankah seandainya karya-karya yang tidak biasa ini misalya berhasil masuk gallery bisa menjadi sebuah pembuktian kualitas baik secara keseriusan atau pun secara konsep.
Baik, saya akan berpikir, karya-karya tersebuat pernah masuk gallery lalu tidak puas dengan gallery entah oleh alasan apa.

Tidak bisa dipungkiri, beberapa pekarya seni mungkin menganggap gallery adalah sesuatu yang terlalu mindstream (maaf jika salah tulis) dan menjadi seolah alergi, sayangnya gallery dan pameran tetap saja seolah tolak ukur kesenimanan, yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para pekarya seni (disaat (mungkin) tidak ada lagi yang percaya pada kalimat “berkarya untuk karya itu sendiri”).

Tiba-tiba gatal ini reda, lalu saya teringat dengan sensasi “mencuri” dimana ada pacuan adreanalin, mungkin seperti ketika anak-anak mencuri mangga dan lari dengan jantung berdebar, sensasi yang mungkin juga dirasakan pada kegiatan yang menggunakan kata Illegal, sehingga Illegallery seperti perpaduan antara memamerkan karya sambil memacu adrenalin. Semakin kacau kan, dan semakin merepotkan membayangkan, lebih repot daripada membayangkan persilangan tirex dengan katak dan gurita.

Illegalery telah berlangsung dan menghiasi gerakan masyarakat di Bali, mungkin menjadi cara alternative perpaduan antara penggunaan kata (keren) Illegal yang memacu adrenalin dengan harapan mewujudkan galeri atau mungkin hanya sebuah perpaduan antara upaya menarik perhatian public (dengan menggunakan kata illegal) dengan kerinduan masuk galeri (semoga pintu galeri tidak digembok karna ini sudah larut).

Menduduki gallery sungguhan bukanlah aib, daripada berlindung dibalik kata illegal, atau bermaian illegal bukanlah dosa sehingga harus perlu mewujudkan gallery.

*foto merupakan hasil download dari internet.

Iklan

7 Comments

  1. menduduki galeri memang bukan aib. dan “Saya, bahkan sebelum saya gatal pun memilih bersikap, dari pada menciptakan yang baru yang akhirnya menjadi sampah, lebih baik memanfaatkan yang lama. Sangat disayangkan sekali jika gallery-galery lagi dan lagi dibuat, terus bertambah banyak, lalu apa bedanya dengan partai politik?” <<<< saya kutip dari tulisan diatas
    mengikuti logika ini event teman teman Pojok (bali Binal) mungkin tidak akan pernah ada. kenapa? karena kita "lebih baik memanfaatkan yang lama" yaitu galeri. bahkan mungkin kata street art tidak akan pernah ada, karena sejatinya street artis ini memanfaatkan jalanan sebagai galeri. ya galeri. dan juga bisa dikatakan (mengikuti logika tulisan ini) kalau para street artis adalah orang orang yang ingin bermain di galeri namun tidak bisa menembus lapisan-lapisan galeri dan juga lingkaran setan galeri-kurator-kolektor.
    oya, belum ada kata lain untuk menggantikan kata galeri. dan aada banyak kisah panjang tentang squating dan membangun galeri dari reruntuhan masayarakat modern

    • Saya sepakat dengan galeri dan lingkaran setannya, yang membuat galery tidak lagi sekedar ruang paneran atau memajang karya, itu kenapa saya lebih menyayangkan kenapa ada kata galery dibelakang kata illegal. Kata galery sebenarnya tak harus diganti dan biarkan dia berdiri sebagai kata dengan lingkaran setannya. Bali yabg binal sendiri bukan menciptakan galery baru, tapi mereka merubah mendobrak sistem galeri. Dan jika melihat para street artist mereka letakkan karyanya diruang publik, dan itu tidak sama dengan menjadikan ruang publik sebagai galery. Ini seperti memikih menggunakan “street art event” atau “street art exhibition”.

      • dengan balasanmu ini kritikmu jadi semakin ajaib. oke mari kita bermain sebentar mumpung saya lagi lowong.
        menurut pemahamanmu, apa sih galeri itu?

    • Wah saya yang sedang tidak lowong…. jadi tak sambi ya. Gakery menurut saya tidal ladi sekedar tempat untuk memajang ataubmemamerkabkarya, seperti komentar pak war, ada lingkaran setan antara si empunya, dengan kurator dan kolektor, sebuah tempat yang untuk ukuran saya sangat ekslusif. Bukan lagi sekedar tempat memajang karya.

  2. Keknya ini bukan soalan dikotomis antara ilegal dan legal, galeri dan non galeri dst. Dan mungjin dari sekian banyak partisipan yg datang gak bisa juga dikotakin logikanya melulu ke arah soal galeri. Memang gak ada salahnya juga galeri, dan gak ada salahnya juga gak mau ke galeri, ini bukan soalan hal banal mainstream/(mindstream) seperti yang kamu tulis dan anti mainstream, soalan dikotomis terlalu menyebalkan bung.

    Dan kritik soal bahasa juga kayaknya sesuatu yg gak asik, sama seperti kamu menyandingkan parpol ditulisanmu, perbandingan yang konyol. Dan yang paling menggelikan ketika kamu menyatakan sikap tidak datang pada acara tersebut, lalu kamu membuat tulisan ini tanpa melihat detil detil kecil di dalam acara tersebut secara langsung, buatku bung, tulisanmu ini gak lebih sekedar ilusif marah marahmu saja tanpa research lebih dalam tentang acara tersebut secara langsung. Actions talk louder eh! And great words wont cover ugly action!

    Salam
    Ezy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s