735art: Banyak Makan Banyak Sampah

Pra Bali yang Binal 6 (street art festival: dunia sedang (tidak) baik-baik saja)

Jangan terkejut jika tiba-tiba ada sosok erkuncir di dahi, bercadar merah, salah satu kakinya telanjang dan yang satu lagi mengenakan sebuah sandal jepit, mengintip anda dari dinding. Sebuah gambar diatas kertas yang ditempel di tembok (wheatpaste), saat saya pertama kali melihatnya dikepala saya adalah bayangan bocah kual dan kieng (susah menterjemahkannya tapi kurang lebih; nakal/bandel yang tak bisa dinasehati dan cenderung konyol). Yang semakian menguatkan opini saya tersebut adalah sebuah papan yang dibawaya yang bertuliskan banyak sampah, banyak makan, diulang sebanyak dua(2) kali. Bagi saya secara personal ini sebuah satir untuk kata-kata bijak bauanglah sampah pada tempatnya. (pandangan saya bisa jadi bukan pandangan saya, ketidak sepahaman hal biasa kan?).

11717047_909585742420402_455795436_n

Seruan buanglah sampah pada tempatnya, atau gerakan memisahkan sampah organic dan non organic sampai pendaur ulangan sampah, atau permintaan mengurangi penggunaan kantong plastic bahkan beberapa mini market menggunakan kantung plastic yang bisa di urai(katanya) sedang gencar , sebagai bentuk atindakan atau respon setelah sampah itu tercipta atau terlanjur telah tercipta.

Sampah hanya sebuah muara dari kebiasaan banyak makan, saya rasa kita semua tahu itu, tetapi seolah telah kecanduan kita mengabaikan apa yang kita ketahui dan tidak bisa berhenti untuk makan. Sampah mulai dari lemak dalam tubuh sampai sisa makanan yang terbuang (jika tidak punya anjing atau babi) mulai dari bungkus makanan sampai kotoran yang memenuhi spitenk pembuangan kotoran (ngomong-ngomong tentang spitank, ada yang tau nomer hp jasa sedot WC, jika ada tolong diinfokan ya, sebelum tangki penampungankotoran saya meledak).

Makan dalam kepala saya adalah simbol prilaku konsumtif, simbul ketidak puasan dan kerakusan yang mendarah daging disetiap manusia (termasuk saya pastinya) tidak percaya? Tanyakan kenapa ada angka nol (0) yang panjang mengekor setelah angka 1 s/d 9.

Sampah adalah akibat dari ketidak mampuan kita untuk membendung keinginan-keinginan bersaing dan diakui di dalam kehidupan social. Laju standar kehidupan social yang modern diciptakan oleh produsen, lalu di urai menjadi standar-standar kecil yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, kemudian dimasukkan secara perlahan menjadi sebuah sugesti melalui berbagai media yang mengakibatkan kita menjadi boneka yang menghabiskan waktu untuk mengejar standar tersebuat. Kebutuhan dan keinginan benar-benar dibuat kabur se-kabur-kaburnya sehingga kita sudah tidak bisa lagi membedakan itu.

Yang lebih mengerikan adalah, perusahaan yang memproduksi bakal-bakal sampah ini memjadi sponsor utama dari kampanye pengolahan atau pengendalian sampah. Ibaratnya mereka menciptakan bakal sampah lalu meminta kita untuk membelinya dan menjadikannya sampah kemudian dengan kekuatan uangnya atau ata snama (kebaikan) kampanye lingkungan mereka menyuruh kita memungut sampah-sampah itu (yang katanya disebabkan oleh kita). perilaku kita disalahkan karena mengakibatkan sampah, padahal bakal-bakal sampah mereka yang menciptakan, dan mereka juka secara perlahan ikut membentuk prilaku tersebut. Kemudian dengan bijaksana mereka menyalahkan prilaku tersebut, kemudian meminta kita berlaku lebih tertib, sedangkan prilaku mereka (perusahaan- prusahaan propusen masih saja sama, menciptakan produk baru setiap menit, lalu merebuat semua ruang dan waktu dengan memenuhinya dengan iklan-iklan mereka). Pertanyaannya apa uang yang digunakan untuk membeli bakal sampah ini dan menjadikannya sampah sebanding dengan uang yang mereka keluarkan untuk memungut n mengolah sampah yang tercipta? Tentu tidak.

Beberapa tokoh yang secara sadar memiliki kepedualian terhadap pengolahan sampah tiba-tiba dijadikan ikon-ikon baru untuk gerakan pengolahan sampah, yang sialnya bisa menjadi seperti solusi yang membuat kita lalai terutama jika muncul logika picik “tidak masalah ada sampah karena kini sampah sudah bisa dimanfaatkan menjadi sebuah karya” atau “tidak masalah ada sampah selama bisa dipisahkan antara yang organic atau non organic.”

Kembali ke karya sosok pria kual itu, “itu pemikiran dari jaman kuliah dulu, ketika saya sering tertidur dikampus (ruang senat) dan bangun-bangun sudah ada banyak sampah yang dibuang disekitar bangunan (ruang senat) itu dan kebanyakan sisa-sisa makanan, jadi aku pikir banyak sampah karena banyak makan” kata si pembuat karya 735art. Saya membayangkan masa-masa kuliah mungkin sekitar 10 tahun yang lalu atau lebih, dan persoalan ini masih tetap sama dan mengerikan.

Pada masa musim panas sampah adalah hal biasa, sebiasa debu-debu yang terbang dan membuat upil dihidung yang akhirnya mengakomodasi kesenangan yang lainnya (ngupil). Sampah baru menjadi popular dan akhirnya menimbulkan berbagai kata-kata pisuhan (kata-kata kasar) karena tiba-tiba air naik memenuhi jalan, membuat kemacetan sampai banjir yang mengenang rumah, dan yang dipermasalahkan adalah “beginilah akibat buang sampah di sungai/selokan/kali” atau “ini akibat buang sampah sembarangan”. Tidak pernah akan muncul kata-kata “begini jika kita makan kebanyakan” atau “beginilah jika makan sembarangan”.

banyak

Makan adalah sebuah kenikmatan, pemenuhan hasrat yang terus dan terus ingin dipenuhi sehingga tidak pernah dianggap menjadi masalah, sedangkan sampah adalah masalah, karena sampah akan mengganggu kenikmatan makan itu sendiri tanpa sadar makan dan sampah adalah sesuatu yang berhubungan dan berbanding lurus, banyak makan ya banyak sampah lalu menjadi banyak sumpah serapah.

Saya tiba-tiba membayangkan bagaimana jika kata makan diganti dengan sampah dan sampah diganti dengan makan (anggap saja kita bisa seenaknya mengganti kata kerja dengan kata benda atau sebaliknya). Maka kata-kata sederhana seperti “yang penting bisa makan saja” akan menjadi “yang penting bisa nyampah saja”. Jadi betapa pentingnya dan gentinya urusan membuat sampah.

Pada akhirnya semua yang diciptakan akan menjadi sampah mulai dari barang, makanan bahkan manuasia itu sendiri, begitu juga dengan karya dan tulisan ini yang nantinya akan menjadi sampah. Semoga sampah yang saya ciptakan ini tidak membuat banjir karena saya tidak punya modal untuk mendanai program pengolahan sampah seperti perrusahaan-perusahan besar pembuat bakal sampah.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s