Air Terjun dan Waterfall

IMG_0649

Pada hari Minggu kuturut Bapak ke Kota kata sebuah lirik lagu anak-anak, jadi aku putuskan pergi ke Kota di utara sana dan berhubung Bapakku sibuk, jadi ku pergi dengan seorang teman lama, yang tumben memiliki waktu untuk bepergian setelah sekian lama. Bermodal nama kami memutuskan menemui seorang teman, sayangnya si teman yang ingin dituju ternyata tidak se popular selebritis yang terus menerus memenuhi TV atau Caleg yang memenuhi jalan dan pusat keramaian. Setelah bertanya pada tiga orang , yang sanyangnya memberikan jawaban yang sama, sama mengecewakannya dan sama-sama dengan ekspresi yang tidak bersahabat, kami memutuskan menyudahi pencarian dan melanjutkan perjalanan kembali ke Kota di Selatan dengan melalui rute yang berbeda dari yang kami lalui saat datang ke Singaraja.

Beberapa kali pergi ke Singaraja, Kota ini selalu menarik, taman kotanya (tentunya sebelum dipagar besi ), dan pada kunjungan kali ini kami ingin menyempatkan mampir ke sebuah air terjun sehabis bertemu dengan teman lama yang ingin dijumpai.

Kembali ke Denpasar melalui jalur Munduk, kami haru menuju kota Seririt terlebih dahulu, lalu kearah selatan (kaje dalam bahasa Bali/ utara=selatan, kaje=selatan/ jika kalian bingung datanglah ke Singaraja dan tanyakan pada mereka).

Memasuki Desa Banyuatis kami menemukan sebuah papan nama besar bertuliskan Waterfall and Nature Swimming pool di sisi sebelah kanan, kami menyusuri jalan dengan perlahan mencari jejak kemana jalan masuk menuju air terjun yang dimaksud. Berhenti dan bertanya pada lelaki tua yang membawa rumput dikepalanya, dia memberikan informasi untuk lurus saja dan pertigaan yang ada patungya kekanan. Tak juga menemukan pertigaan yang ada patung ditengahnya, kami memutuskan mencoba masuk pada pertigaan yang menurut kami benar, seorang wanita sedang merendam kakinya bersama anak dan pakian cuciannya, kami bertanya padanya apakah ada air terjun didekat sini. Jawaban yang kami dapatkan ternyata mengejutkan, wanita itu mengatakan, kalo di Banyuatis hanya ada air terjun, namanya Pesiraman, sedangkan kalau waterfall ada di Munduk. Saya dan teman saya hanya memandang dan saling melihat. Setelah mendapat diskriipsi yang lebih lengkap kami memutuskan melanjutkan perjalanan mencarinya.

Tiba di sebuah pertigaan, sebuah patung tersembunya di balik posko besar, kami mengambil arah kekanan (dari singaraja menuju denpasar), melewati jalan yang semakin mengecil, kemudian belok kekiri dan masuk menuju jalan yang semakin mengecil, di sebuah jalan ditengah persawahan kami masuk kekanan memasuki jalan beton yang lebih kecil lagi. Sayup-sayup suara air jatuh terdengar, kami meniti jalan menuju kearah suara itu. Jalan berliku, sempit, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan pintu masuk menuju air terjun.

Pada seorang petani saya bertanya dan mendapatkan informasi bahwa, air terjun ada di belakang saya, dirumpun bambu. Kami terpaksa memutar kembali, menuju rumpun bambu, ada tangga kecil menurun di sebelah kiri jalan, kami behenti dan mencari tempat parker di pinggir kali, beberapa meter dari tangga. Kami jalan menuju tangga, berpikir tangga itu akan membawa kamu pada air terjun yang ingin kamu jumpai, sayangnya tangga itu ternyata berujung pada sebuah Pura.

Kami memutuskan kembali ketempat kami memarkir motor, seorang pengendara sepeda yang sepertinya adalah penduduk asli lewat, saya bertanya tentang lokasi air terjun itu penasaran. Si pengendara menunjukkan bahwa untuk mencapainya kami memang harus menyeberag kali itu, lalu menyusuri tanah setapak menurun.

IMG_0344

Jadi dari pada penasaran yang berujung pada semakin kacaunya perjalanan dan hari minggu yang panas, kami memutuskan menyeberangi kali, meninggalkan motor di pinggir kali, melompat di bebatuan, menyusuri setapak tanah, yang tampaknya baru saja di bersihkan, setelah berjalan beberapa puluh meter, setapak beton yang telah ditmbuhi rumput tampak, jalan menuju air terjun pesiraman pun semakin jelas. Tampak sekali air terjun ini sebelumnya sempat dikelola sayangnya karena sepinya pengunjung sarana seperti setapak dan toilet pun terbengkalai dan di tumbuhi rumput liar.

Sampai di titik pandang, air tejun sudah nampak, sayangnya sangat susah menuju sisi tepian air terjun, sehingga kami haya bisa melihat dari tengah-tengah air terjun. Udara menjadi sangat lembab, menyalakan sebatang rokok kami memutuskan untuk beristirahat disana.

IMG_0334

Waktu beranjak mulai menuju senja, kami memutuskan kembali melanjutkan perjalanan menuju air terjun selanjutnya. Dalam perjalanan ketika hendak menyebrangi sungai menuju motor, bocah-bocah yang bereriak-teriak tadi tampak sedang asik bermaian, waktu menunjukkan pukul 13.00, mereka bermaian disungai hanya menegenakan celana dalam. Sebuah pemandangan yang menarik saat di tempat laian aturan orang tua yang akan memaksa anak-anak mereka tidur siang dan ketakutan yang memanjakan tubuh membuat orang tua khawatir berlebihan. Bisa melihat mereka bermaian bebas disuangai ditengah siang bolong membawa ingatan masa lalu kembali muncul.

IMG_0369

Tak mau larut terlalu lama dengan nostalgia, kami melanjutkan perjalanan menuju waterfall munduk, meninggalkan air terjun pesiraman.

Menyusuri jalan yang terus menanjak, kami keluar dari Desa Banyuatis, memasuki Desa Munduk kami memelankan kendaraan, celingukan mencari plakat yang menunjukkan keberadaan waterfall munduk. Sampai menemukan plakat dan dua orang waisatawan asing yang basah keluar dari sebuah jalan kecil, kami memutuskan berhenti dan menanyakan pada penduduk local apakah ini waterfall yang dimaksud. Setelah mendapatkan kepastian kami menanyakan apakah bisa masuk menggunakan sepeda motor, jawaban ya, membuat kami masuk menggunakan sepeda motor menyusuri setapak berbeton yang kecil. Selama perjalanan kami berpapasan dengan beberapa wisatawan asing yang telah kembali dari air terjun.

Sebuah pos penjaga berdiri di pintu masuk, ada tulisan anak-anak 2000, dan dewasa 5000 yang membuat kami mengeluarkan 10000 untuk masuk melihat waterfall. Berjalan beberapa meter menuruni tagga kami bisa mencapai air terjun. Sangat terliihat jelas bagaimana air terjun ini dikelola dan dikunjungi wisatawan secara rutin, ini terlihat bagaimana rumput liar tidak ada yang menginvasi jalan setapak dan semua tertata dengan rapi walau tetap saja tidak terawatt maksimal. (jika yang menghasilkan saja tidak dirawat bagaimana dengan yang tidak menghasilkan). Dihadapan waterfall telah berdiri bule lengkap dengan guidenya, melihat dan mengabadikan waterfall.

IMG_0440   IMG_0450

Bagi kami waterfall munduk ini tidak semenarik air terjun pesiraman, mungkin karena kami selera local dan lebih suka yang gratisan sehingga merasa seperti itu. Tapi dari waterfall ini kami menemukan sebuah informasi bahwa di atas sana masih ada satu waterfall lagi, yang jarang dikunjungi karena medannya dibilang lebih sulit. Setelah mendapat info itu kami memutuskan meninggalkan waterfall munduk, dan menuju waterfall yangberada lebih diatasnya.

Sampai di sebuah tikungan kecil, sebuah warung kopi disebelah kiri jalan ( jalur seririt kearah denasar), sebuah plakat kecil bertuliskan waterfall terpampang. Kami memutuskan beristirahat meminum kopi terlebih dahulu, sambil mencari informasi mengenai air terjun ingin kami tuju.

Memesan 2 cangkir kopi local, dan itu adalah kopi yang paling maknyos (kalo mencuri istilah sebuah acara makanan) selama perjalanan 3 hari kami. Setelah cukup informasi, kami memutuskan melihat langsung.

IMG_0639  IMG_0631

IMG_0723

Jalan  dari tanah, dibuat dengan cara sederhana dan berkesan  alamiah mungkin, karna alamiah kini lebih menjual semenjak isu go green, pemanasan global atau makanan organic. Menuruni tangga tanah di antara tanaman kopi arabika, tak ada tiket masuk, hanya ada sebuah rumah penduduk, lalu sebuah toilet dan kotak yang bertuliskan “DONATION” sangat alamiah dan sangat internasional. Turun menuju air terjun, sebuah restoran berdiri dengan menawarkan pemandangan langsung kearah air terjun. Tanaman tertata dengan rapi, bambu cukup dominan. Tinggi air terjun tidaklah setinggi dua air terjun sebelumnya hanya saja yang kali ini lebih lebar.

IMG_0689  IMG_0519

Setelah turun dan melihat dari dekat, senja sebentar lagi datang, tangga menanjak menunggu panjang, dan kami sedang tidak ingin terjebak malam, kabut, gerimis dan dingin dalam perjalanan pulang, oleh karna itu kami memustukan untuk kembali keatas dan melanjutkan perjalanan menuju Denpasar.

Dalam perjalanan sampai Denpasar kami menemukan satu pertanyaan, jika yang di Banyuatis pertama disebut Air Terjun, yang kedua di M        unduk disebut Waterfall, lalu yang ketiga sebaiknya disebut apa???????

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s