Adipati Kera II

20140731_180342Suara gaduh terdengar dari sebuah ruangan setelah seorang dengan mahkota dan jubah kebesarannya bicara. Lelaki tua masuk, dan duduk di deretan kursi paling belakang. Adipati junjungannya baru saja duduk setelah selesai berpidato panjang dan lebar tentang idenya membuat pulau baru.

Seorang tetua adat berdiri, rambut di bawah dagunya panjang, “Tuanku yang terhormat, seberapa hebatnya kita saat ini hingga berani menimbun lautan. Semua yang ada di daratan bisa dilumatnya, tidak kah itu cukup meggambarkan berapa dalam dan misteriusnya lautan, Tuanku?”

Adipati Astika diam, melihat darimana asal pertanyaan itu muncul. Seorang penasehat yang duduk disebelahnya berdiri, suaranya menggambarkan umurnya tidak berbeda jauh dari yang mengajukan pertanyaan.

“Saudaraku, kita tentu masih ingat bagaimana kehebatan leluhur kita dahulu, bagaimana mereka bisa membelah lautan untuk menyeberangkan Baginda Sri Rama? Apalah artinya membangun sebuah pulau kecil jika dibandingkan dengan mereka membelah lautan dahulu?

Ketika pendahulu kita mampu membelah lautan mereka masih berjalan tanpa alas kaki, sekarang saat kita berkembang menjadi makhluk yang telah bisa mencipkan pelindung bahkan untuk kaki kita sendiri, pasti pengetahuan kita pun sanggup membuat sebuah pulau kecil, apalagi dengan bantuan para pendekar dari Ayodya, tidak usah khawatir, Saudaraku,” kata penasehat raja yang duduk disebelah kiri Adipati Astika.

“Baginda Tuanku, saya Subali. Saya seorang petani di pesirsir selatan, 30 tahun lalu ketika kecil saya bermain di pantai, ketika itu pantai letaknya masih jauh dari sawah saya. Kini, saya perhatikan air laut semakin tinggi, jarak dataran dengan pantai pun menjadi sangat dekat. Tidakkah baginda khawatir, pembuatan pulau baru itu akan semakin meninggikan air laut. Ibarat air dalam gelas, pasti akan semakin tinggi ketika jari ini dimasukkan kedalamnya.

Pulau kita kecil, Tuanku, jika makin hari makin tinggi, tidakkah baginda takut pulau kita hanya tinggal sejarah?” tanya pria kekar, hitam dan liat.

“Wahai Subali, aku sama sepertimu, mencintai pulau ini, dan tidak ada seorang pun dari kita ingin pulau ini menjadi kenangan dan menghilang. Tapi apa kau pernah berpikir tentang berapa jumlah kita sekarang, setiap hari jumlah yang lahir lebih banyak dari yang pergi, dimana kita akan tinggal?

Seperti katamu Subali, pulau kita ini kecil, apakah yang ada di pulau ini bisa menghidupi tiga bahkan empat kali lipat jumlah kita dimasa mendatang? Apa kau tidak takut anak-cucu kita tidak memiliki tempat tinggal, atau bahkan kelaparan dan saling bunuh karena Giliwanara kita telah penuh sesak?

Selain itu Subali, bumi ini luas, tidak seluas gelas bahkan kendi atau tempayan dan air itu mengalir, saat kita menutup disini pastinya dia akan mengalir ketempat lain, mengisi tempat lain yang kurang.

Pulau itu juga bisa dijadikan perisai dari bahaya serangan air bah laut, hingga jika bencana itu menyergap kita tidak akan meluluhkantakkan pulau ini,” raja menjawab dengan kebijaksanaannya.

Subali diam lalu kembali berdiri, “Baginda, apakah para pendatang yang menggunakan pulau itu sebagai peristirahatan tidak akan merubah nilai-nilai kemasyarkatan kita?”

“Oh Subali, mereka hanya datang dan tinggal untuk waktu yang singkat, selain itu mereka hanya akan mampir untuk sesekali melihat ritual-ritual kita dan akan belajar dari kita. Bahkan kita bisa semakin mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai lelur kita.

Jadi jangan khawatir tentang itu, kita sudah bisa bertahan selama ratusan tahun, nilai-nilai itu sudah tertanam di alam bawah sadar kita, tidak akan mudah tergerus, Subali,” jawab Adipati Astika tegas.

Lelaki tua yang sedari tadi hanya diam mendengarkan kini berdiri. “Baginda, saya harap suara saya yang pelan ini bisa ada dengar. Saya pun berbangga dengan cerita pendahulu kita yang telah bisa membelah lautan hingga bisa menyeberangkan Sri Rama, dan bisa mengalahkan Raja Rahwana di Alengkapura serta mengambil kembali Dewi Shinta. Tapi apa yang didapat?

Hanya pulau kecil ini, itupun masih di bawah Ayodya. Dahulu leluhur Anda Sugriwa adalah seorang raja, atas jasanya membuat jembatan beliau dianugrahi menjadi Adipati di pulau ini, manakah lebih tinggi Raja atau Adipati, Baginda?

Hamba hanya tua renta, tak akan lama, hamba tahu anak-cucu hamba akan terus bertambah, dan seperti ucapan Baginda, jika bumi ini luas, maka akan hamba biarkan anak-cucu hamba menyebar kesegala penjuru, mengalir seperti air. Hamba akan membiarkan anak cucu hamba sepert biji kelapa di tengah samudra, mencari pulaunya sendiri, untuk tumbuh dan berbuah. Dengan membawa nilai-nilai dari pendahulunya.

Dan untuk anda penasihat, saya tahu sekarang kita telah beralas kaki, sayangnya alas kaki tidak membuat kaki-kaki ini tambah kuat, tetapi malah semakin lemah terluka. Dahulu kapal di kaki ini tak sanggup ditembus duri, kini bahkan sebuah ranting kering bisa dengan mudah menancap di kaki ini.

Tidak kah pembuatan pulau ini hanya bentuk kerakusan dan kesombongan kita?” tanya pak tua itu.

“Lancang kau, Pak Tua!” teriak salah seorang penasihat raja yang sedari tadi duduk diam di sebelah kanan Adipati Astika. Seisi pendopo istana terdiam, sepi. Para prajurit menjadi bersiap dengan senjatanya, siaga jika sewaktu-waktu aba-aba akan di perintahkan.

Adipati Astika berdiri, memandang pak tua itu yang masih pada posisinya. “Baiklah, mari kita ijinkan saja pihak Ayodya untuk memeriksa gundukan pasir di selatan pulau ini, setelah mereka melihat kita akan memastikan apakah tempat itu memang layak atau tidak untuk sebuah pulau baru. Setelah mendapat kepastian, baru kita bicarakan lagi apa kita benar-benar membutuhkan pulau baru atau tidak,” Adipati Astika menenangkan suasana, lalu bergegas meninggalkan ruangan.

Pak tua itu masih diam di posisinya, semua tetua dan warga yang datang pun bergerak meninggalkan ruangan itu. “Semua penguasa sama saja!” pak tua itu bergumam dan melangkah dengan pelan, beriringan dengan Subali.

“Penguasa selalu seperti itu semaunya, seenaknya, sedari dulu kala, hingga kini dan nanti

Mari Subali, mari kita pulang dan kembali ke sawah kita, sebelum sawah-sawah itu tidak memiliki nilai lagi dan tak bisa memberikan kita hidup,” katanya pada Subali.

Subali memandang pak tua itu, dilihatnya air menggenang di sudut mata yang telah keriput. Air mata kekecewaan, kecewa karena pemimpin yang di hormatinya ternyata sama egoisnya, sama bebalnya, sama tak pedulinya. Air mata yang bahkan kepahitan hidup yang selama ini dijalaninya pun tak mampu mengeluarkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s