Adipati Kera I

20140731_180342

Giliwanara sebuah pulau kecil, dekat Alengkapura, istana Rahwana dahulu kala dihuni oleh kera dari garis keturuan Sugriwa, seorang raja kera yang karena perempuan dan kekuasaan rela membunuh saudara kandungnya. Astika, cicit dari cicitnya Sugriwa memimpin pulau itu, pulau kera yang damai. Hanuman telah menyebarkan nilai-nilainya secara sugestif dengan bantuan simbolis Sri Rama dan nilai-nilai itu masih terjaga hingga kini. Pulau itu, Giliwanara, tertata dengan arsitektur yang adiluhung, megah dan mewah, hingga para manuasia pun tidak akan malu jika Darwin berkata manusia berasal dari kera.

Gapura-gapura berukir dengan cita rasa seni tingkat tinggi, kuil-kuil terbangun megah dengan upacara yang tidak pernah putus. Pemujaan pada Dewa setiap hari, kidung suci berkumandang sepanjang malam. Tanah yang subur, buah, sayur, apapun yang ditanam akan tumbuh dan makmur. Matahari bersinar hagat, senja indah pagi memesona, saat malam gemerlap bintang pun terasa dekat. Kemakmuran ini membuat mereka berlaku seolah tak akan habis dan tak akan pernah kekurangan.

Pada suatu pagi, seorang pria muncul di halaman istana, Suwesya, priyayi rupawan dengan dua purnakawan mengiringinya. Seorang penjaga mempersilahkan masuk dan duduk diruang tamu. Sebuah ruangan luas dengan tempat duduk dari kayu berukir bunga mekar.

Astika hadir dari ruang sebelah, dengan wajah keriput, dan uban yang tak sempat disembunyikan, “Oh, Tuan Suwesya, akhirnya Tuan berkenan hadir juga di gubuk hamba.”

“Hahaha…. Ini adalah istana yang megah, semua tertata dengan indah, bahkan saat saya pertama kali memijakkan kaki di tanah ini, saya sudah tergoda dan kagum dengan keindahan dan keramahan penduduk saudara. Saudara telah berhasil membangun bumi ini dengan megah,” Suwesya memuji.

“Pujian Tuan terlalu berlebih, ini juga berkat masyarakat yang mau menjaga nilai leluhur kami.”

“Masyarakat yang kuat dan sangat taat, tidakkah tuan ingin membagikan keindahan bumi Tuan, membiarkan orang datang dan menghabiskan beberapa hari waktu mereka disini, menikmati surga anda?” tanya Suwesya.

“Tentu, Tuan. Kami terbuka untuk siapa saja, Tuan beserta keluarga bisa datang kapan saja dan akan disambut hangat disini, hingga Tuan tidak akan merasa asing dan tetap seperti di rumah sendiri.

Apa yang saya miliki dan nikmati hari ini juga berkat kemurahan hati Baginda Sri Rama, leluhur Tuan,” jawab Astika.

“Itu dahulu sekali sodaraku, pulau saudara hari ini tetu telah mengambarkan bagaimana pulau ini telah dijaga dan dikelola dengan benar,” Suwesya menimpali.

“Kami tumbuh terus Tuan, masyarakat kami berkembang, seperti juga dengan Tuan, waktu telah menetaskan jumlah kami, untungnya kami masih bisa damai dan bertahan. Karena hanya ini yang kami miliki,” sahut Suampa.

“Ayodya kini telah padat saudaraku, bahkan semua celah telah bising, bahkan dalam tidur pun tak ditemukan lagi sebuah ketenangan dan kedamaian. Saat aku berkunjung ke Alengka hal yang sama juga terjadi, semua tempat penuh, semua orang melaju, beruntunglah kalian dan pulau ini.

Karena itu saudaraku, aku memohon kemurahan hatimu. Berbagilah keindahan pulaumu ini pada kami, makhluk-makhluk yang telah tergencet kebisingan. Biarkan kami mendapat air ketenangan dalam sengatan panas kebisingan.”

Menjadi murah hati adalah sebuah kebaikan, pikir Astika. “Tapi pulau kami ini sempit dan kami juga tumbuh, nilai-nilai kami pun sangat ketat untuk menjaga pulau ini.”

“Aku tahu saudaraku, pulau dan masyarakat serta nilai disini tak bisa dipisahkan, mereka harus tetap dijaga, pulau ini dan semua yang mengalir disini adalah sebuah bukti akan keagungan nilai spiritual leluhur kita dahulu. Aku tidak berani mengganggu.

Apakau kau ingat saudaraku? Bagaimana leluhurmu bisa menyebrangkan Baginda Sri Rama ke Alengka hingga bisa menghancurkan kejahatan Rahwana?” tanya Suwesya.

“Apa maksud, Tuan?” tanya Astika.

“Apakah saudara lupa bagaimana kedigjayaan para kesatria leluhur Tuan hingga bisa membuat sebuah jembatan menuju Alengka? Bagaimana mereka bisa melintasi samudra menggunakan jembatan kelapa yang tersususn diatas lautan. Kita telah dicarikan kedigjayaan mereka hingga bisa melakukan itu, itu adalah ceritera besar saudaraku.

Aku bermaksud melakukan hal yang serupa, dengan restumu pastinya. Kita membangun sebuah pulau kecil di ujung selatan, di kaki pulau ini. Tempat onggokan pasir saat lautan surut sering muncul dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Letaknya di ujung selatan tak akan mengurangi kesucian utara kan? Selain itu saudaraku, pulau itu tidak akan mengganggu kehidupan pulaumu ini.

Kami hanya akan melihat kalian dari luar, sesekali hadir untuk belajar spiritual agung kalian, selebihnya kami hanya akan diam, dan menerima bagaimana energy positif kalian membasuh dahaga kami. Pulau itu akan menjadi pesinggahan para orang-orang yang telah habis terpapar sengatan matahari kebisingan dan kepenatan.

Kalian juga akan mendapat keuntungan, buah, sayur dan hasil bumi kalian, bahkan anak-anak kalian bisa bekerja disana, tidakkah itu menguntungkan?” Suwesya memaparkan keinginannya.

“Tuan, saya tidak akan lupa dengan kedigjayaan para leluhur dahulu, tak akan ada yang lupa akan hal itu, bahkan untuk seribu tahun yang akan datang. Tapi tidakkah menutup laut akan merusak keseimbangannya?” tanya Astika.

“Saudaraku, kita telah belajar, jika jembatan yang membelah lautan diciptakan oleh para leluhur, apalah artinya jika kita menciptakan sebuah pulau kecil diatas gundukan pasir. Bukankah membelah lautan jauh lebih dahsyat?

Dan kau saudaraku akan dikenang hingga seribu tahun kedepan, akan menjadi sebuah legenda, karena bisa menciptakan sebuah pulau yang membawa kemakmuran, tanpa merusak tatanan,” bujuk Suwesya.

“Pikirkanlah saudaraku, bagaimana leluhurmu Raja Sugriwa dan Ksatria Hanuman dikenang karena kejayaannya membangun jembatan menuju Alengka, dan kau saudaraku, akan dikenang karena bisa menciptakan sebuah pulau untuk kemakmuran rakyatmu, namamu akan diingat selama-lamanya. Umur kita singkat saudaraku, tapi jika kau bisa menciptakan pulau itu, kau akan abadi, bahkan namamu bisa dijadikan nama pulau itu,” lanjut Suwesya.

Ada benarnya juga, setelah Ida Sugriwa, tak ada lagi penerusnya yang bisa membuat sebuah mahakarya yang pantas untuk dikenang dan diceritakan. Pikir Astika, “Ini keputusan besar tuan, saya harus membicarakannya dengan penasihat-penasihat saya.”

“Tolonglah Saudaraku, kita akan menciptakan oase di tengah padang pasir kebisingan dan kepenatan dunia,” Suwesya berkata.

“Iya, Tuan. Ide Tuan ini akan saya sampaikan besok dengan penasihat-penasehat saya. Tuan, biarkan kami menjamu anda malam ini,” Astika menawarkan pada junjungannya.

“Terimakasih Saudaraku, tapi aku harus segera ke Ayodya malam ini. Sebelum itu aku ingin menikmati senja yang indah di pantaimu. Jadi ijinkan aku pamit.”

“Benarkah Tuan tidak ingin bermalam disini?”

“Terimakasih banyak Saudaraku, tapi maafkan aku, kali ini aku belum bisa menerima pemberianmu, lain kali aku pasti menerima perjamuanmu dengan senang hati. Aku mohon diri Saudaraku, akan ku tunggu kabar baik darimu,” Suwesya berdiri sambil menyerahkan sebuah bingkisan. “Ini buah tangan dari Ayodya, jangan kau tolak Saudaraku, tali silaturahmi leluhur kita harus dijaga bukan?” lanjutnya dengan tersenyum.

“Terimakasih, Tuan. Saya akan memberi kabar tujuh hari lagi setelah berdiskusi dengan para penasihat saya.” Astika pengantarnya sampai didepan pintu gerbangnya.

Matahari turun perlahan ditepian barat, bocah-bocah mulai memenuhi dan bermain dengan suka cita, para tetua menikmati kopi di tepian jalan, sambil berbincang. Astika, memanggil dayang untuk membersihkan bekas perjamuan di ruang tamu lalu masuk kedalam ruang kerjanya.

Suwesya berjalan menyusuri kesegaran senja dengan senyum, menjauhi istana Astika dengan harapan, menuju matahari senja. “Apa kau telah memberikan upeti pada para penasehat-penasehat Astika?” tanyanya pada dua orang purnakawannya.

“Sudah, tuan. Kami sudah memberikannya secara langsung,” jawab purnakawannya berbarengan.

“Bagus…. Bagus….,” Suwesya tersenyum, senja indah dengan harapan yang merekah. Semua keinginannya akan terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s