Lelaki dan Kopi

Matahari baru muncul, udara dingin berhembus lembut. Rumput-rumput pematang sawah masih basah oleh embun. Burung-burung berkicau di dahan pohon dan capung masih lekat tertidur, menggantung pada ujung daun padi. Ayam-ayam jago masih berkokok, memamerkan kegagahannya dari dalam kurungan, jumawa sebelum bertarung, jumawa sebelum mati.

Asap keluar dari celah-celah genting, api merambati kayu bakar perlahan. Menghangatkan ruangan dapur, memanaskan, mandidihkan air diatasnya.

Seorang anak perempuan sedang duduk tenang, sementara ibunya sibuk mengepang rambutnya. Ritual gaya rambut untuk anak sekolah. Sedangkan seorang bocah laki-laki duduk di pangkuan bapaknya, mencari kehangatan melawan dingin pagi.

Selesai mengepang rambut putrinya, si ibu melangkah mengambil air panas dan menuangkannya kepada kopi yang telah terperangkap bersama gula didalam sebuah delas yang luntur. Dan menyuguhkan segelas kopi yang telah menghembuskan aroma wangi kepada suaminya yang masih duduk memangku putranya.

Setelah si putri siap dan kopi telah disuguhkan, si ibu mengambil besek, melangkah bersama putrinya, pergi ke pasar sambil mengantar anaknya sekolah.

Laki-laki separuh baya muncul, dari belakang rumah, menghampiri laki-laki yang sedang menikmati kopi dan memangku putranya.

“De, sini sama pekak,” pinta laki-laki itu.

Bocah laki-laki itu turun dari pangkuan bapaknya, melangkah dan naik ke gendongan sang kakek.

“Sudah ngopi pak?” tanya wayan pada bapaknya.

“Sudah Yan,” jawab laki-laki tua.

“Yan, bagaimana rumahmu?” tanya lelaki tua.

“Ya, masih belum tuntas, pasir dan semennya masih kurang,”jawab Wayan sambil menyeruput kopinya.

Si lelaki tua melangkah menuju rumah yang masih belum tuntas pembangunannya, sambil menggendong cucunya dia melihat rumah tersebut. Lantai rumah masih terlihat hanya tanah gembur, dan dinding batako pun baru berdiri sebagian.

“Yan, uang bantuan dari desa kan sudah turun?” tanya lelaki itu.

“Sudah pak,” jawabnya singkat. Mata Wayan kini memandang api di tungku yang terus menjalar merayapi kayu kering.

“Ini kan uang bantuan Yan, kalo bisa di usahakan biar berdiri aja. Takutnya jika tiba-tiba datang pemeriksa dari Desa atau dari Pemerintah,” lelaki tua itu menyarankan.

Wayan hanya diam, pandangannya kosong. Kopi didepannya diam, tenang dan tak lagi menyebarkan aroma wangi. Ia melempar pandangannya pada ayam jago yang berjajar di emperan rumah, ada 9 kurungan ayam berdiri disana dan tampak 4 kurungan telah kosong.

“Biar cepat kita bisa minta tolong keluarga untuk bergotong royong,” lanjut si lelaki tua.

Sambil melangkah menuju kearah Wayan lelaki tua itu bertanya “Yan, Made tak ajak main ke rumah ya?”

Pertanyaan tadi mengembalikan tatapan si Wayan, tampak api telah memakan habis kayu bakar.

“Iya, biar tidak ikut ke sawah, badannya agak hangat juga pak,” jawab si Wayan.

“Ya sudah kalo begitu bapak pulang dulu,” lelaki tu itu melangkah menuju belakang rumah.

Sambil menggendong cucunya yang tenang di gendongannya. Sesekali matanya melihat wajah cucunya dan tersenyum. Mengkin karena lemas akibat kondisi yang tidak sehat, cucuk laki-lakinya hanya diam lemas di gendongannya.

Matahari mulai bersinar terik, embun-embun telah mongering, entah oleh kaki-kaki yang melangkah, entah oleh sinar yang menguapkan. Capung telah terbang merkelana, diganggu burung-burungyang mulai mencari makan.

Kopi telah tandas, sabit yang sedari tadi terselip di dinding bedeg dapur diambil, diasah. Keranjang dengan matanya yang banyak menunggu sabar, lebih sabar dari perut sapi yang akan melenguh.

Wayan melangkah, mengambil keranjang rumput dan pergi melakukan rutinitasnya, menyabit rumput untuk tiga ekor sapinya.

Melangkah meniti pematang, menyeberangi kali kecil, melewati pancuran menuju pematang sawah garapannya. Memilih rumput yang cukup panjang untuk disabit. Curah hujan yang cukup membuat rumput pematang menjadi lebih cepat tumbuh dari pada ketika musim kemarau.

Padi tumbuh sombong menantang langit, menunjukkan belum cukup isi kebijakan yang membuatnya merunduk. Memilih pematang dan jongkok memulai perlahan dan tekun menyabit. Sabit yang tajam dan berkilau karena sering dipakai, sering diasah memotong rumput dengan dingin, tegas dan mudah.

Pikirannya melayang pada kata-kata bapaknya, bagaimana kelanjutan pembangunan rumah bantuan pemerintah, dana telah diterima dan telah habis juga. Habis bersama 4 ekor ayam yang mati.

Jika benar ada pemeriksaan, apa yang akan ku katakanan. Apa yang akan mereka lihat, bagaimana jika mereka meminta uangnya kembali, kemana aku kan mencari panjaman. Jika mereka mempermasalhkan ini seluruh keluarga akan malu.

Pikirannya berekecamuk. Tanpa disadari dua keranjang telah penuh. Dan cukup untuk makan tiga ekor sapinya.

Melewati pematang yang sama, rumput semakin kering, hamparan hijau padi bertingkat-tingkat menghampar ditengah matahari yang kian memanas. Terik matahari dan peluh bersama membuat gerah.

Sekeranjang rumput diberikan untuk sarapan 3 ekor sapi sebelum mereka merengek melenguh. Tiga ekor sapi yang bukan miliknya. Yang mengikatnya untuk selalu berada dirumah dan selalu menyabit hingga sabit itu menjadi begitu berkilau tajam dan dingin.

Dari kandang sapi yang semakin mereot, melangkah mengusir gerah menuju pancuran. Membiarkan tubuhnya diguyur air yang masih dingin, mencoba mendapatkan kesegaran yang sederhana ditengan panasnya hari, panasnya hidup.

Kakinya melangkah begitu saja, dari pancuran, menuju rumah, meletakkan sabit di tempat semula, dikepit bedeg dinding dapur. Lalu melangkah masuk mengganti baju. Si istri yang sedang memasak pun tak cukup menarik perhatiannya.

Dia langsung masuk dan mengganti pakaian.

“Mau kemana?” tanya si istri.

“Aku keluar sebentar”jawab Wayan singkat.

Dengan pakaian yang paling bersih yang dia miliki, melangkah keluar rumah sambil berkata “Ntar tolong kasi makan ayamnya ya, dari pagi belum makan. Kau jadi beli makanannya kan?”

“Sudah aku belikan makanan ayamnya. Made kemana?”jawab sang istri.

“Dia pergi sama kakeknya,” jawab Wayan sambil melangkah keluar.

Tak ada yang aneh, dia selalu bicara seperlunya dan menyimpan semua dalam pikirannya. Banyak kata banyak sampah, seperti banyak makan banyak kotoran.

Kakinya melangkah meniti pematang yang kering karena rumput telah kerdil terinjak dan embun telah berlalu terusir siang. Melangkah tak tentu arah. Mata kakinya mencari jalannya sendiri, membawanya menuju selatan menuju barisan bukit yang membentuk benteng perlindungan.

Sang matahari telah berada diatas kepala, semua pekerja sawah meninggalkan ruang kerjanya untuk pergi menghindari sengatan matahari, pergi mengisi ulang pasokan energy.

Wayan terus berjalan, mengikuti kakinya, tak ada yang mengisi kepalanya selain berjalan saja. Sengatan matahari kini tak lagi tersa, apalagi haus dan lapar. Melewati jembatan kecil diatas kali yang mengalir deras. Menuju jalan raya, yang juga lengang. Beberapa orang duduk di warung. Orang yang tak dia kenal, orang yang tak mengenalnya juga.

Sudah empat hari hujan tak pernah turun, meski mendung terus menggantung di langit kejauhan. Gerah semakin menjadi. Jalan-jalan beraspal telah berlubang, deru mobil dan truk yang jalan perlahan menerbangkan debu.

Menemukan setapak setelah menyebrangi jalan raya, Wayan masuk ke daerah ladang dan meniti setapak menuju puncak bukit. Tangannya kosong, langkahnya pasti, pikirannya kosong tertuntun dua pasang mata kakinya.

Meniti setapak yang tertutupi daun lembab, cuaca lembab. Terus menuju atas, mandaki, sandal jepit yang dikenakan penuh tanah yang menempel. Langkahnya menjadi lebih licin, lebih berat.

Seorang laki-laki dari datang dari arah berlawanan, menggendong keranjang berisi rumput. Langkahnya ringan menuruni setapak, beban menjadi tidak begitu berarti, karena kebiasaan telah membentuknya.

“Eh Wayan, mau kemana?” tanya laki-laki dengan keranjang rumput. Pakaian kotor dan kumal, seperti seragam pekerjaan yang selalu dikenakan untuk pekerjaannya.

“Eh Bli Ketut, ini mau ke selatan sebentar,” jawab Wayan. “Sudah selesai nyabitnya Bli?” lanjutnya.

“Ini baru dapat Yan. Ayo mampir Yan, kita ngopi,” jawab laki-laki itu, tetap dengan keranjang yang masih berada diatas kepalanya.

“Iya Bli. Nanti saya mampir,” jawab Wayan singkat.

“Ya sudah, nanti mampir ya. Kalo begitu Bli jalan dulu” lelaki itu menimpali.

Mereka lalu berpapasan. Lelaki yang masih melangkah pasti dengan rumput sekeranjang untuk sapinya. Lelaki dengan seorang istri, yang merupakan kerabat si Wayan.

Kaki-kaki itu masih melangkah, terus mendaki. Langit senja memerah, menembus menyinari lapak melalui sela-sela rimbun daun yang tersisa. Suara serangga malam telah berkumandang. Terik panas telah melembut.

Tanaman paku tumbuh subur dibawah pohon salak yang tak terlalu dirawat karena harga yang tak bernilai.

Nafas mulai terengah di setapak datar rang berundak. Tak ada tebing yang curam. Tampak sebuah Pura berdiri diam, tenang di beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri. Suara serangga malam mementaskan orchestra, semakin jelas. Berlatar langit yang merah, indah. Senja itu sangat indah, surya seperti sedang teramat ramah.

Mengatur nafasnya Wayan duduk. Melempar pandangan pada matahari sore. Melihat sendalnya yang semakin letak dengan tanah yang meliat. Berat dan licin. Hijau kemerahan tampak dimata, tak berarti, tak disadari.

Dia diam, kosong, mata kaki telah lelah menuntunya sampai ketempat itu. Mata kepala yang selama ini terus membuatnya tegak telah lelah menatap hidup selama ini. Mata hati telah larut bersama desakan hidup dan kesenangan. Mata tangan yang selama ini terkontrol pikiran kini mengambil alih.

Melangah menghampiri sebuah pohon salak, pohon paku terinjak kaki-kaki yang lelah. Buah salak belum lagi matang, tapi apa gunanya matang jika hanya akan membuatmu melacur pada tengkulak.

Mata tangan menuntun lengan menuju daun salak yang belum lagi mekar. Daun muda kuncup digenggam jari-jarinya, kemudian dengan hentakan merampas dari pohonnya. Lalu membaginya menjadi dua, tak adil dalam keadilannya.

Sisi pangkal disimpul mati, merubah pelepah daun salak yang masih muda itu menjadi tali. Tali darurat yang merupakan keterampilan yang telah diajarkan oleh hidup sebagai petani. Tali pelepah salak yang biasa dia gunakan untuk mengikat tanaman kacang atau ubi.

Pohon kopi liar tumbuh tak terawat. Sendirian tanpa temannya. Pohon kopi itu sama sendirinya seperti Wayan saat ini. Tak ada yang memperhatikan, tak ada yang memotong, tak ada yang menempel, tak ada yang memetik tumbuh sendiri tak tergantung, terabaikan, tak berharga karena hanya sendiri tumbuh di petakan yang berundak.

Ujung tali pelepah salak diikatkan pada dahan kopi, kini mereka mengikatkan diri. Wayan ingin menjalin hubungan dengan tanaman kopi kesepian itu. Hubungan terikat erat, pohon kopi itu menerima saja, dengan daun yang bergoyang pelan. Ujung tali lainnya diikat kan pada lehernya sendiri.

Kini Wayan dan kopi telah terikat erat, tanpa disadari dua makhluk sendiri itu telah terikat erat oleh tali pelepah salak, terkat tanpa disadari, terikat tanpa kesadaran. Disaksikan senyum matahari lembut dan ramah, di rayakan goyangan daun dan orchestra serangga malam.

Pura di puncak bukit termangu diam, berdiri dipuncak tinggi, kaki tak mampu mencapainya. Dari bawah pohon kopi Wayan berdiri, matanya kosong. Mata kaki telah terpejam, mata tangan meringis menahan tusukan duri dari pelepah salak muda.

Bersama teman barunya kini Wayan berdiri dibibir gundukan, menoleh pohon kopi dan menatap ikatan dan simpul yang menghubungkan jalinan mereka. Tangan Wayan menggenggam erat simpul tali dilehernya. Dia tak mau simpul itu lepas, dia tak mau teman barunya yang tenang dan tidak banyak bertanya itu pergi. Dia pegang simpulnya yang dileher dan melompat dari gundukan.

Suara serangga makin keras, langit kiam memerah. Surya semakin turun. Burung-burung kembali kesarangnya. Tali yang menghubungkan pohon kopi dan Wayan menegang, ikatan mengeras, Wayan terayun, terhentak.

Pohon kopi diam tenang, daunnya bergoyang lembut. Wayan diam, diam tenang terikat erat.

Deru nafas yang sempat terengah setelah berjalan mendaki kini tenang dan tak lagi ada. Tangannya terkulai matanya tertutup, kakinya terkulai matanya tertutup, kepalanya terikat dan matanya terbuka, melotot.

Harum semerbak kopi menemaninya di pagi hari. Harum itu pun lama hilang bersama angin, bersama kopi dalam gelas yang jadi dingin.

Pohon kopi yang diam tenang menemaninya menikmati senja terakhir, mereka terikat kini entah sampai kapan.

—————————————————– (dalam kenangan sosok yang selalu melintas di pematang sawah tempat ku penuhi keranjang dengan rumput, melintas dalam diamnya, melintas dengan langkahnya) —

dari, Koempolan cerpen Mira, Balon dan Rima.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s