Lewat Tengah Malam (part1)

IMG_6090

“ada toilet?” sebuah pertanyaan dilontarkan seorang pemuda dengan muka merah, kusam dan rambut panjang tak terurus. Pertanyaan yang sudah dia tau jawabannya, hanya sebuah pertanyaan basa-basi.

“ada pak, dibelakang?” jawab kasir laki-laki dengan seragam putih merah, sambil menunjukkan arah letak toilet.

Pemuda itu melangkah menuju toilet, debaran jantungnya masih tergambar diwajahya yang panik. Tas ransel masih di pundaknya.

Wajah yang memerah dibasuhnya dengan air dari keran wastafel, rasa perih di pipi bagian bawahnya membuat dia melihat kecermin. Sebuah luka lecet tergores membentang di pipinya. Wajah lelah, kucel, merah, tergambar di dinding. Dia menunduk, tak sanggup melihat kenyataan dihadapannya, dibasuhnya lagi wajah itu, berharap air akan merubah gambaran kelelahan dan malu. Lalu dia melangkah keluar toilet, tanpa melihat cermin lagi, karna tau kenyataannya tak akan seperti apa yang diharapkannya.

Dengan membawa sebotol minuman bersoda dari lemari pendingin, pemuda itu melangkah menuju kasir, meminta sebungkus rokok dan sebuah korek. Lalu melangkah keluar setelah menerima kembalian selembar uang kertas abu-abu kotor dan selembar kertas buram kecil.

Dipilihnya sebuah kursi di pojok kiri, didepan toko. Dia duduk meletakkan ranselnya di lantai. Memandang ke jalan yang remang, diterangi lampu seadanya, sesekali satu-dua kendaraan melintas dengan mengantuk. Tengah malam telah lewat, tapi adzan subuh belum menjelang. Botol minuman dibukanya dengan gigi, ditegaknya, lalu diletakkan diatas meja. Disandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang pendek penuh coretan spidok hitam, hijau dan merah kotor.

‘hufff…’ suara nafas yang dehelanya. Lelah tergambar jelas. ‘selalu akan seperti ini’ pikirnya. ‘kepahitan sepat menjadi akhir sebuah awal yang terlalu manis’. Sebatang rokok dikeluarkan dari bungkusnya. Korek hitam bergambar bunga warna-warni di hidupkan untuk menciptakan asap relaksasi.

Pikirannya melayang pada masa lalu, ketika cerita indah, keliaran rahasia di lakukannya. ‘Berputar-putar pada hubungan yang rumit ,sampai kapan? Apa yang kau cari?’ tanyanya pada dirinya sendiri. Kenapa pertanyaan itu tidak muncul saat keadaan gembira, itulah sebenarnya yang harus di tanyakan.

Diambil tas dari lantai, dibuka, dikeluarkan semua isinya diatas meja. Beberapa buah buku, beberapa buah CD, dan pakaian diserakkan diatas meja. Diperiksa semua isi tasnya, dompet, beberapa lembar kertas dan kartu nama. Semua telah di gelar, tas itu pun kosong.

Satu persatu buku dan pakaian dimasukkan lagi, sambil mengatur kesadaran nafasnya. Lalu dompet dan kertas-kertas yang tidak jelas bentuknya. CDnya di prikas satu-persatu, beberapa sampul dari kaca mika telah pecah dan tidak bisa ditutup denga layak. Untung tidak ada kamera atau laptop pikirnya.

‘semenjak Kita mewakili kau dan aku, hubungan ini semakin rumit. Kemanapun kita harus bersama, seoolah tak beleh sesuatu dilakukan sendiri’ pikirannya menyimpulkan, kapan kekacauan ini berawal. ‘aku dengan kebenaranku dank au dengan kebenaranmu, saling memaksakan demi Kita, semakin saling menguasai dan saling mengalahkan’.

Kembali di tegaknya minuman dalam botol yang telah basah oleh bulir air. Dimasukkan kembali semua CD kedalam tas. Meja itu kina hanya menampug sebuah botok, sebungkus rokok dan sebuah korek, dan serpihan kecil sampah. Kembali pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil merogoh sakunya mengeluarkan sebuah handphon tua dengan karet gelang mempertahankan agar bagian-bagian handphone itu tidak terpisah, tercerai berai. Dilihatnya ada delapan panggilan tidak terjawab, dibukanya, dan sebuah helaan nafas kembali muncul. ‘sudah ku duga, kau akan mengadu pada ayahmu, berusaha mencari perhatian yang selama ini tak kau dapatkan, kenapa tak kau ceritakan juga semua keliaran, tawa atau sekalian desahanmu ’pikirnya, sambil meletakkan Hpnya diatas meja.

‘kau menantangku dengan sebuah syarat, aku memenuhi syart yang kau ajukan, sayangnya kau tak bisa menerima kenyataan’ gumamnya. ‘mungkin kau memang ditakdirkan untuk hidup disini dan aku hanya jembatan yang membawamu sampai kesini. Kehidupan yang lebih baik akan kau dapatkan disini, meski tanpa aku’ pikirnya sambil melihat langit.

Handphone berkedip-kedip, sebuah panggilan muncul dilayar, dibiarkan. Berselang kembali panggilan itu muncul mengejar. Dengan setengah hati pemuda itu mengangkat handphone, membiarkan karet gelang menyentuh kulit pipinya yang tergores luka melintang.

“hallo, selamat malam.” Pemuda itu menjawab, dengan sebuah kalimat sopan standar.

“iya pak,” lanjut pemuda itu menjawab singkat.

‘saya juga lelah, tidak hanya Kau yang lelah. Saya juga kerja, tidak hanya anakmu. Kauyang memberikan anakmu ijin pindah kesini, Kau juga menganggap anakmu selalu anak-anak, perhatian yang terlambat membuatmu memilih terlalu ikut campur urusan kami.

Kenapa kau terlalu mempercayai dan hanya mendengar dari anakmu, tidak selamanya anakmu itu benar’ pikir pemuda itu. “saya tidak melakukan itu, yang terjadi tidak seperti itu” katanya membela diri. ‘bahkan anakmu tak memberitahumu kalau dia tinggal denganku?, atau kau sengaja pura-pura tidak tahu?’

Suara diseberang sana tak memberikan kesempatan untuk menjlaskan kejadian menurutnya, suara itu hanya berteriak, menyalahkan bahwa pemuda itu telah menyakiti putrinya.

‘aku tahu, aku tak merasa memiliki pulau ini,anakmu pun datang atas keinginan sendiri seperti katau dahulu, bahwa semua orang hidup bisa hidup dimana saja, dimana mereka mau dan senang untuk hidup. Anakmu yang ingin menguasaiku.’ pemuda itu hanya diam mendengarkan, sesekali kata iya muncul. Serangan dari seberag telpon terlalu bertubi-tubi.

‘kau tau siapa yang mencarikan tempat tinggal anakmu? Siapa disana saat anakmu sakit? melayani apa yang dia inginkan, tapi apa anakmu bisa mengerti pekerjaanku? Tidak, yang dia mau hanya semua keinginannya tercapai.’ Pikirannya mendengarkan suara dari seberang telpon yang tak bisa dibendung.

“tentu saya mencintai pekerjaan saya” jawab pemuda itu. “iya pak” katanya lagi melanjutkan.

‘ya, aku tau kau berkuasa, kenal dengan semua penguasa, tapi ini masalah rasa, masalah pribadi, pemerintah tak bisa mengaturnya, masalahku dengan anakmu, bukan masalahku denganmu. Aku tau kau banyak pekerjaan, oleh karnanya kau tak pantas menelponku dan tiba-tiba menyalahkanku atas apa yang menjadi pilihan anakmu’ pikir pemuda itu, tangannya gemetar, wajahnya memerah menahan amarah.

“baik pak, saya tidak akan mengganggu atau mendeati anak bapak lagi” katanya singkat. ‘dan pastikan juga anakmu tidak mengganggu lagi hidup saya, menasihati anakmu, itu lebih pantas daripada menyalahkan anak orang lain.’ Pikirnya.

“oya pak, kunci motor saya dibawa anak bapak”. Kata pemuda itu sebelum melempar hanphon kemeja, dan tubuhnya ke sandaran kursi.

Menyalakan sebatang rokok, pemuda itu melihat langit, hanya gelap, tak ada bintang di kejauhan. ‘harusnya kau menjaga anakmu dari dulu atau sekalian kau kepit diketiakmu, bukan sekarang menyalahkan anak orang lain atas apa yang terjadi hari ini, atas ketidak mampuanmu menasehati anakmu, atas ketidak mampuanmu mengatur anakmu, atas ketidakmampuanmu untuk tahu secara utuh apa yang sebenarnya terjadi disini’ pikirnya.

Kembali kedipan hanphone oleh panggilan yang sama mengganggu lamunannya. Dia mengambil dan mengangkat. ‘udah kau mau ngomong apa, akan aku hadapi hari ini, setidaknya besok pagi aku bisa tidur, dan memulai dengan kebiasaan baru’ pikirnya.

“baik pak, saya hanya akan mengambil kunci motor saya, dan pergi” jawabnya, dan kembali menaruh hanphone dimeja.

——————————————————————————————————————————————————-bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s