Lewat Tengah Malam (part2)

IMG_6110

Gonggongan dua ekor anjing tak mau berhenti, meski pemuda itu sudah berada di lantai dua sebuah kontrakan. Melepaskan sandal dan helm, dia masuk kedalam kamar yang memang tidak di kunci. Tas ransel diletakkan di lantai, didekat sebuah meja kecil, meja serbaguna. Sweeter putih rajutan, buluk dilepasnya dan digantung dibalik pintu.

Seoorang perempuan terbaring dibawah selimut, menghadap tembok. Diatas kasur yang tak ditutup penuh oleh jarik batik berwarna coklet. Tidak ada sedikitpun gerakan menanggapi kedatangan pemuda itu, tak ada sebuah senyuman apalagi sebuah kecuan mesra seperti biasanya.

Pemuda itu melangkah menuju kamar mandi, lalu keluar kebelakang, membawa sebuah cangkir yang telah berisi kopi instant, lalu menyeduhnya dan duduk di dekat pintu menikmati sebatang rook.

‘aku tahu kau belum tidur’ pikirnya sambil memandang perempuan yang terbaring diatas kasur. Tidak ada bintang. Hanphone di dari saku celananya menunjukkan pukul 23.30. tak ada bintang, tak ada bulan, sesekali anjing masih menggonggong pendek memecah kesunyian.

Pemuda itu masih menikmati rokok dan kopinya, mencari sesuatu yang bisa dikerjakan, dia mengambil sebuah majalah, bergambar dua bocah dengan pakaian adat Bali, tersenym gembira. Dia membuka majalah itu, lembar demi lembar. Menunggu reaksi dari perempuan yang masih terbaring diposisi yang sama. ‘kemarin kau bilang sakit, tapi ternyata dari kemarin malam kau tak ada dirumah dan sore ini kau berjalan dengan seorang laki-laki, dan melintas dihadapanku seolah kita tidak pernah kenal, seolah aku adalah orang asing bagimu’ pikirnya.

Waktu berjala sangat lambat, saat menunggu semua seolah terhenti bergerak. Kopi di gelasnya telah tandas, 5 batang rokok telah terbaring diasbak, dan satu lagi tersisa menyala. Pemuda itu masih duduk di posisi yang sama, dengan gerakan yang terus berulang, diantara, kopi, rokok, langit, menatap perempuan yang terbaring dan langit, berulang-ulang tanpa ada reaksi sedikitpun dari perempuan itu. Matanya masih terang benderang, seolah rasa kantuk tak mau hadir. ‘Baiklah jika kau tak mau bicara sekarang, kita bisa bicara kapanpun kau mau, bicara saat kau siap hingga tak perlu ada pertengkaran seperti biasanya’ pikirnya.

Pemuda itu bangkit, membawa gelas kedapur, dan kembali, mendekati perempuan yang terbaring, dan mengecup keningnya, “aku keluar sebentar mencari angin, mata ini belum mau tidur” bisiknya di telinga perempuan itu, lalu berdiri, melagkah menuju ransel yang masih tergolek dilantai.

“pergi saja sana!!!!!!” teriak perempuan itu tiba-tiba, lalu bangkit membuka almari baju plastic, dan melemparkan semua pakaian pemuda itu kehalaman. Pakaian itu beterbangan, terjun bebas menuju tanah dari lantai dua. Anjing di bawah diam tak ada suara yang terdengar.

“ada apa denganmu?” Tanya pemuda itu, ‘setealh apa yang kau lakukan sampai sore tadi aku yang pantas marah’ pikirnya.

“kau mau pergi kan? Sana pergi!!!!!!” usir perempuan itu.

“jangan terian-teriak, ini sudah malam, tidak enak sama tetangga” pemuda itu coba menenangkan.

“persetan, apa peduliku. Mereka juga tak pernah peduli padaku, kau juga tak perah peduli padaku” teriak perempuan itu.

‘tak tau terimakasih, tempat yang kau tempati ini dari mana? Siapa yang merawatmu saat sakit?’ pikir pemuda itu sambil berusaha mendekati, mencoba menenangkannya.

Perempuan itu semakin menggila, sebuah tamparan, dilesatkan. Pemuda itu yang tidak siap tak sempat mengelak, tangan perempua itu mendarat di pipi kirinya.

“tenanglah, jangan ribut!!!!!” nada suara pemuda itu kian keras, sambil berusaha merangkul tangan dan tubuh perempuan itu. Mencoba menenangkannya dalam dekapan.

Perempuan itu malah semakin menggila, berteriak, “sana pergi, bawa semua barang-barangmu Anjing!!!!!,”. Menyerang pemuda itu dengan pukulan bertubi-tubi, membabibuta. Tas ransel yang tergeletak dilantaipun kini telah terbang keluar, diringi buku-buku dari meja.

“Diamlah!!!!,aku akan pergi” kata pemuda itu sambil mencoba mengambil kunci sepeda motor yang tegeletak diatas meja.

Perempuan itu tiba-tiba melompat, meraih kunci mendahului, lalu menjaga didepan pintu, mencegah pemuda itu keluar. Berteriak dengan hujatan “Bangsat, kini kau pergi Anjing…… setelah kau bosan ku……”

“anjing, sialan, bangsat….!!!!!!” Teriaknya, desak tangisan mulai muncul silah berganti dengan teriakan semua kata hinaan, cacaian, binatang keluar. Amukan perempaun itu semakin menggila.

“apa maumu sebenarnya? Aku yang seharus…”

Belum lagi pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, prempuan itu kembali memukul, kini dia menyerang dengan menggunakan pukulan mata kunci, menyerang wajah pemuda itu bertubi-tubi, pemuda itu mencoba melindungi wajahnya, menunduk. Tak hanya pukulan, kaki perempian itu pun ikut akkif menyerang, hingga pemuda itu terdesak kepojok kamar.

Teriakan, hujatan, hinaan, tendangan, cacian, pukulan terus menyerang, pemuda itu yang semakin terdesak.

“tak kuasa menahan amarah, penghinaan, kekecewaan atas keributan dan kegaduhan kekanak-kanakan itu, tangannya yang sebelunya dipakai untuk bertahanpun bergeming, sebuah tamparan di layangkan kewajah perempuan itu, membuan perempuan itu terkejut dan mundur beberapa langkah, tepat ketika perempuan itu hendak membalas pukulan si pemuda, sebuah tendangan merobohkannya.

Perempuan itu terjatuh, menangis. Pemuda itu melangkah menuju pintu, keluar meninggalkan kamar, menuruni lantai dengan muka merah, panas, gerah, malu.

‘kau menghinaku., perempuan tak tau disayang, tak tau diri, tak tau terimakasih, kau menghinaku’ gumamnya sambil mengambil tas, dan memunguti pakaian, serta buku-buku yang telah berserakan dihalaman, lalu melangkah meningalkan pekarangan rumah itu, menyusuri jalan gelap tanpa lampu, menuju jalan raya yang lebih besar, lebih benderang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s