Mira, Balon & Rima

mira

Suara pintu diketuk, membuat ibu Rima menggenggam gagang untuk membuka ruang.

“Selamat sore,” sapa ibu Mira.

“Oh, akhirnya kau datang juga, ayo masuk,” ajak ibu Rima.

Setelah sebelumnya melakukan ritual berpelukan dan cipika-cipiki, sebuah tradisi yang mungkin diadopsi dari semut untuk menunjukkan kedekatan dan identifikasi kerumunan atau malah semut yang meniru dari manusia? -Apapun itu setidaknya meski berbeda spesies kita masih saling memperhatikan-.

Ibu Mira masuk sambil menggandeng Mira, bocah perempuan dengan pakaian pink kusam, rambut lurus sebahu yang enggan diikat lengkap dengan benang yang digenggam erat pada tangannya. Tubuh kecil kurus dengan kulit putih itu tak lupa mengambil tangan ibu Rima dan menciumnya, sebuah tradisi untuk menunjukkan betapa penting dan berkuasanya orang yang lebih tua.

Sebuah acara di rumah Ibu Rima untuk mengumpulkan kepingan kenangan lama, tiga wanita yang merupakan sahabat lama, selama mereka tak bersua. Rentang waktu pun telah membuat mereka kini datang dengan irisan masing-masing.

Di dalam ruang untuk para tamu juga telah diisi beberapa orang dewasa dan beberapa anak-anak. Sebuah TV menyala menatap sofa, lantai yang dilapisi karpet serta meja makan yang berada sejajar dengan sofa. Ruang yang bersih tertata rapi, selalu rapi jika ada tamu isimewa yang akan datang dan entah jika hari biasa. Bahkan sebuah rumah pun menggambarkan sebuah kota, dimana kota tiba-tiba menjadi bersih tertata rapi saat lomba atau kunjungan orang penting datang dan kembali semrawut saat semua telah berlalu.

Wanita yang baru datang itu berjalan menuju sofa dan Mira yang masih menggenggam erat tangan ibunya disatu sisi mengikuti. Orang-orang dewasa itu berserakan, ada yang telah duduk di sofa, di kursi ruang makan, ada juga yang berdiri memenuhi semua ruang yang ada. Sampai akhirnya berkumpul membentuk kelompok kecil untuk berbicara dan terus berbicara. Anak-anak kecil telah mulai ikut berlarian diantara serakan memanfaatkan ruang-ruang yang tersisa.

“Mira, kamu disini dulu ya!”kata ibunya sambil berjalan menuju kelompok kecil sahabat lama yang tengah ngobrol.

Mira hanya diam, duduk sambil tangan kanannya masih erat menggenggam seutas benang, yang terus dinggenggam sedari tadi. Matanya tertuju pada ujung benang yang mengikat sebuah balon berwarna kuning. Sesekali pandangan Mira teralih pada sang ibu yang masih melakukan ritual semut sambil terus berbicara. Sesekali memandang anak-anak yang berteriak, berlarian tanpa ingin ikut bergabung. Dia menikmati dirinya dan balon yang menari ditiup angin. Orang-orang dewasa masih berserakan, bicara saling menyahut dengan kelompok kecilnya sesekali berubah posisi tanpa merubah laku.

Anak perempuan dengan rambut keriting terbungkus baju berwarna biru menjatuhkan dirinya bersandar disamping Mira. Mira yang terkejut semakin menggenggam erat benangnya yang dipendekkan sehingga ia bisa meraih balon itu. Keringat tampak di dahi anak itu dan nafas yang terengah-engah, “Dia pasti sangat lelah,” pikir Mira. Mira masih diam menatap balonnya.

“Hai, namamu siapa?” sapa anak itu dengan terengah sambil menatap balon Mira.

“Aku Mira,” jawab Mira singkat.

“Aku Rima. Dimana kau dapat balon itu?” lanjut Rima.

“Ibuku membelikannya tadi,” sahut Mira sambil memandang ibunya yang masih berdiri dan bicara seperti orang dewasa lainnya.

Rima terdiam mengelap keringat serta mengatur nafasnya, memberi senyum manisnya pada Mira.

“Sini Rima,” teriak bocah laki-laki memanggil Rima dari pintu ajakan untuk kembali berlari.

“Sudah sana kau dipangil temanmu, berlari lagi sana,” pikir Mira.

“Balonmu buatku saja ya?” pinta Rima sambil tersenyum, Mira hanya diam sambil menggenggam balonnya.

“Tidak, balon ini milikku,” pikir Mira.

“Aku punya banyak boneka di kamarku. Apa kau mau main boneka? Kau boleh meminjamnya,” Rima melanjutkan.

“Tidak, aku tidak mau main boneka” sahut Mira yang masih memegang balonnya.

“Ada boneka panda besar lho, ada juga boneka babi” Rima merayu.

“Aku suka boneka babi” sahut Mira.

“Kau boleh pinjam boneka babiku, tapi kasi aku pinjam balonmu ya? Nanti kita main bersama” pinta Rima.

“Tidak, nanti balonku pecah” sahut Mira.

Rima yang sudah tak sabar langsung mengunakan tangannya, merebut apa yang bukan menjadi miliknya.

Mira yang merasa balon itu adalah miliknya, karena memang begitu adanya, menghindarkannya dari jangkauan Rima.

“Tidak ini punyaku,“ kata Mira.

“Aku pinjam sebentar saja,” teriak Rima.

“Tidak… tidak.. tidak boleh… Ibu, dia mau ngambil balonku,” jerit Mira.

Orang dewasa terdiam, semua memandang Rima dan Mira yang bertengkar serta balon yang bentuknya sedikit berubah dalam pelukan Mira.

“Rima, sudah!!,” kata ibunya.

“Mira!!!” teriak ibunnya hampir berbarengan.

Mereka berteriak karena pembicaraannya mereka terganggu. Karena kenikmatan mereka dirusak pertengkaran anak kecil.

Ibu Mira kini menghampiri anaknya, dengan emosi yang sedikit diredam oleh malu, coba melerai.

“Mira, kasi Rima pinjam balonmu, nanti ibu belikan lagi. Kalian bisa bermain bersama,” pinta ibunya,

‘ Ibu tak akan membelikanku lagi, ibu akan lupa seperti kemarin’ pikir Mira.

“Tidak, dia akan memecahkan balonku bu,” sahut Mira dengan suara yang hampir menangis.

“Iya Mira, kasi Rima pinjam balonmu” kata orang dewasa yang lain.

“Ayo Mira, kamu harus belajar berbagi, kalian bisa bermain bersama, pasti akan lebih seru,” lanjut Ibunya.

“Tidak, pokoknya tidak, ini balonku. Mira udah lama memintanya dan baru sekarang Ibu memberikannya. Tidak, Mira tak mau main bareng dia,” Mira menjawab dengan terus memeluk balonnya seolah balon itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Hak memang sesuatu yang sangat berharga, jadi apa salahnya jika dia memeluk erat dan mempertahankannya.

“Tidak apa-apa Mira, Mira bisa main lagi dengan balon Mira ya,” kata ibu Rima coba menenangkan Mira.

“Rima sini!!” keras Ibunya memanggil.

“Apa yang kau lakukan Rima?” tanya Ibunya.

“Rima hanya mau pinjam balonnya Bu,” sahut Rima dengan muka yang merah dan kecewa.

“Kau bisa minta baik-baik kan?” lanjut ibunya.

“Sudah tapi dia tak mau memberikannya,” jawab Rima.

“Sudah sekarang kau main yang lain saja, biarkan Mira main dengan balonnya,” lanjut ibu Rima

“Tapi Bu?” rengek Rima minta pembelaan.

“Sudah kau main dengan yang lain sana,” balas ibunya tegas sambil berlalu kembali pada kelompoknya.

Sedangkan Rima dengan kecewa berjalan menuju kamarnya.

“Jangan terlalu keras,” kata wanita lain sedikit berbasa-basi.

“Kadang kita harus keras sama anak,” jawab ibu Rima.

“Maafkan Mira ya bu, dia memang masih susah berbagi,” suara ibu Mira terdengar menghampiri ibu Rima.

“Tidak apa-apa, anak-anak biasa seperti itu,” sahut ibu Rima.

Kebiasaan yang terabaikan oleh orang dewasa. Dan mereka kembali pada situasi semula, bicara tentang hal-hal yang bagi mereka penting dan sayang dilewatkan.

Mira kambali pada diri dan balonnya, sesekali benang dipanjangkan sehingga balon menjadi tinggi, digoyang hingga balon itu menari.

Rima keluar kamar dengan boneka babi ditangan kiri, serta tangan kanan menggenggam sesuatu.

Orang-orang dewasa telah kembali pada ritmenya, berserakan, tertawa, bicara, melempar ledekan kecil, pamer wawasan, larut tanpa peduli sekitar dan ruangan itu telah kembali seperti semula.

Beberapa anak berlarian, TV yang meyala dan bicara sendiri, sofa yang masih betah diduduki dan karpet yang setia menghamba untuk diinjak.

Mira yang sedang asyik bermain balonnya di sofa, menatap lekat pada balon itu dan tak memperhatikan sekitar.

Rima berjalan bergegas dengan boneka babi di tangan kiri, menghapiri Mira dengan balonnya dari belakang dan “Dooooorrrrrr……” teriak balon itu.

Setelah tangan kanan Rima menghujamkan peniti. Meski tak hijau balon itu tetap meletus.

Waktu terkejut dan semua berhenti, orang dewasa terdiam, anak-anak berhenti berlari.

Hanya TV yang masih bicara dan Mira yang terkejut menatap terpaku tak percaya pada balon kuning yang telah hancur.

“Rimaaaa!!” teraik ibunya.

Mira yang tersadar akan teriakan itu hanya bisa menangis bisu pilu, tak ada suara hanya air mata yang terus mengalir, memandang benang yang kini hanya mengikat bangkai balon.

Sedang Rima berjalan menuju pintu, tak menghiraukan apalagi menjawab teriakan itu.

“Jika aku tak memilikinya maka Mira pun tidak,” gumamnya dalam hati.

Dengan tetap menenteng boneka babinya menuju kearah bocah laki-laki yang tadi memanggilnya dan berlari. Bermain dengan hal baru. Dan entah kemana peniti yang telah bersalah itu pergi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s