Pantai Pink

wpid-p_20140924_120447_ll.jpg

 

“kenapa mas?” seorang pria bertopi, dengan tas hitam menggantung di pundaknya bingung melihat sikap penjaga pintu masuk ke Pantai Pink yang hanya diam memating sambil menggenggam uang ditangan kanannya.

“kurang pak” penjaga dengan kaos kumal itu menjawab, sambil berdiri disebelah motor bebek butut, yang dia gunakan untuk mengantar Wisatawan Pria itu ke Pantai Pink.

Motor bebek berdebu, yang entah sudah berapa kali bolak-balik mengatar penumpang dari parkiran di pos penjagaan menuju ke Pantai Pink. Beberapa bagian motor telah diganti dengan aksesoris imitasi yang norak, mungkin untuk bergaya, atau mungkin juga karna harga sparepart yang tidak terjangkau.

“bukannya Rp 5000?” tanya Wisatawan Pria bertopi itu dengan  nadanya lebih keras.

“itu tertulis disana Rp. 5000” sambil menunjuk nominal yang tertulis pada papan coklat, tertulis dengan spidol hitam seadanya dan tergantung dia tiang Berugak (bangunan seperti posko ronda).

Beberapa pria yang dari tadi asik berbincang dan menunggu, serentak menoleh kearah suara tinggi yang dikeluarkan wisatawan pria bertopi coklat itu. Mereka menatap dengan tajam. Setajam matahari yang bersinar siang itu, yang menguapkan air dari daun dan daun dari pohon.

“itu harga jika Bapak pakai motor sendiri, tapi Bapak tadi memilih naik Ojek. Kalau pakai ojek, tarifnya 10 ribu sekali brangkat.” Kata penjaga menjelaskan.

Melihat kawan-kawan penjaga yang kini memandang wisatawan pria bertopi itu, dengan pandangan kerumunan yang menikam dan mengintimidasi, Wisatawan pria  itu kecut.

“jadi berapa semua?” mempersingkat pembicaraan yang  memperpanjang kekecewaan.

“Rp. 60. Ribu” jawab penjaga itu pedek.

Pria bertopi itu, mengambil selembar Rp 50 ribu dari dompet yang tersimpan di dalam tas yang menggantung di pudaknya. Menyerahkannya pada lelaki penjaga yang merupakan utusan aturan yang disepakati ditempat itu. Menyerahkan dengan kecewa, dongkol dan marah dalam hati, yang tercermin pada perubahan raut wajahnya yang menjadi merah, dan otot-otot ekspresi wajah serta tatapan amarah yang tak bia di sembunyikan.

Rp. 60 ribu tentu bukan hal yang mahal bagi ukuran laki-laki yang datang ketempat itu dengan mobil SUV lengkap dengan seorang supir. Yang harga alas kakinya, atau topinya, atau dompetnya, lebih dari Rp. 100rb. Yang harga satu porsi makannyadalam  sekali makan bisa 3-4 kali lipat dari Rp. 60ribu.

Tapi bagi pria penjaga, dan kawanannya yang rela menunggu seharian, Rp. 60 ribu adalah berkah, ditengah kekeringan yang telah menguras air dalam tanah, menguras energy untuk bertahan dari desakan harga kebutuhan pokok dan biaya sekolah. Berkah ditengah kekeringan yang telah menghanguskan bakal buah sirsak yang menjadi andalan mereka. Berkah di tengah tanah lempung hitam diantara lahan-lahan gersang. Berkah ditengah kata, doa dan harapan,  hujan akan turun mengisi kolam-kolam yang baru mereka buat.

“terimakasih pak” jawab penjaga menang, dari pertarungan antara pulang sebagai pecundang kelaparan atau pulang dengan nafkah untuk keluarganya dan rokok untuk bibir serta kebiasaannya.

Wisatawan pria itu melangkah kalah menuju mobil yang menunggu di depannya. Seorang wanita berambut ikal,kulit sawo matang, menggunakan celana pendek jeans yang bertarung dengan sama kuatnya melawan paha penuh lemak, berdiri di samping mobil SuV silver. Sebuah topi dengan lidah lebar menutupi wajah wanita itu dari panas, sebuah kaca mata hitam menjepit hidungnya yang mungil untuk memastikan matanya tidak menatap gersang yang akan merusak kesegaran liburan mereka.
Papan penunjuk arah sederhana di ditempel pada pohon, dengan coretan cat serapi mungkin. Sebuah pasak di ditancapkan,ditikamkan demi petunjuk arah yang mudah dibaca, seperti cara keji Caleg menempelkan baliho seenaknya saat berkampanye. Ketenaran pantai yang telah di bawa burung ke seantero dunia, tak bisa di kejar kenyataan.
Dua orang rekan penjaga yang telah selesai melaksanakan tugasnya dan memparkir motor mereka di bayang-banyang ranting kering, bergegas menuju penjaga yang telah menerima imbalan. Tak perduli dengan ekspresi wisatawan pria yang membayarnya.

“kenapa, Mas?” Tanya wanita itu pada pasanganya.

“mereka memanfaatkn kita”

“maksudmu” Wanita itu mencari penjelasan

“tarifnya Rp. 10rb untuk setiap orang untuk sekali perjalanan” kata wisatawan pria itu kesal. “jadi kita kena Rp 60rb untuk 3 orang”

“mahal sekali, Pak” ujar supir  yang sedang sibuk memutar kendaraannya  meninggalkan lokasi itu menimpali.

“iya, di Balikalau  kita ke Pantai  hanya kena karcis parkir Rp 2000” wanita yang duduk disebelahnya menimpali.

“padahal kita hanya ngojek sekitar 200 meter” supir memanasi.

“sudah aku bilang kan, kita di manfaatkan”. Lelaki itu tetap dengan kesimpulnnya. “Kalian tidak lihat penghalang yang dipasang ditengah jalan untuk mencegah mobil bisa lewat?” lelaki itu bertanya untuk pembenarannya.

Jika pantai, pegunungan, atau sungai dimanfaatkan oleh mereka kaum papa maka itu adalah  salah. Jika mereka yang selama ini terlahir di sekitar pantai, pegunung atau sungai itu menikmati sedikit berkah dari orang yang datang untuk berlibur maka itu dianggap sewenang wenang, tetapi jika hotel-hotel besar, restoran-restoran yang memprivatisasi pantai atau sungai atas nama industry , dan menjualnya secara bebas kepada orang kaya, di halalkan. Industry yang menghisap sari pesona keindahan alam untuk orang kaya dan menyisakan sampah buat orang miskin pasti akan didukung sekuat tenaga oleh pemerintah.

Jalan yang dilewati penuh lubang membuat sopir tak bisa memacu kendaraannya. Wanita itu menggenggam lengan wisatawan pria yang duduk disebelahnya, kemarahannya telah berubah menjadi kejengkelan. Tangan kiri Wisatawan pria itu mengenggam handle penumpang yang menempel di atas pintu, menjaga posisinya dari guncangan.

“sudah jaraknya jauh, jalannya rusak parah, pantainya juga tidak bagus-bagus amat.” Celoteh wisatawan pria. “mana ada pink-pinknya, warnanya sama aja seperti pantai di Kuta,( Bali.)”

“apa lagi hanya ada warung penjual kopi, mending di Kuta (Bali) ada restorant dengan beragam masakan ikan lezat dan murah.” Kecewa karena yang didapatkan tidak seperti yang dibayangkan dan membandingkan adalah usaha menghibur diri.

Lalu kenapa Bapak kemari? pikir Sopir dalam hati.

Sopir yang sedari tadi focus mempertahankan kendali ditengah jalan yang rusak mulai tertular kecengkelan yang di celotehkan majikannya. “iya, mana jalannya rusak” hanya itu kata-kata keluhan yang bisa dikeluarkan sopir itu.

Jalan yang harus dilalui menuju pantai Pink memang rusak parah, seolah pemerintah alergi untuk menuangkan aspal di jalanan itu, dan seperti biasa alergi itu hanya akan disembuhkan oleh Hotel atau Vila pemilik modal yang ingin membangun akomodasi wisata.

Sepanjang jalan, hanya hamparan kekeringan, panas yang menyengat, beberapa orang yang duduk di berpihak pohon-pohon yang tumbuh dengan menyisakan batang dan ranting tanpa daun. Mobil air bersih yang membawa suplai air ke penduduk. Biji-biji sengon di jemur di halaman. Semua berwarna kuning kering, kuning gersang. Monyet mengais daun kering, mencari biji yang tertinggal dan belum hangus oleh terik matahari.

Sepanjang jalan juga wanita di kursi belakang sibuk dengan tisu, topi, kaca mata dan social media ditangannya.

wpid-p_20140924_122216_ll.jpg

Di ketenangan pantai, seorang lelaki membeli 5 buah kopi dan sebungkus rokok. Duduk di warung sederhana, jika sederhana adalah penghalusan dari kumuh. Menunggu pesanannya siap. warung dari bamboo itu telah digeser entah berapa kali, kedepan lalu kebelakang lagi oleh pihak berwenang.

Dua pasang pasangan turist asing sedang berendam di bawah matahari tropis, ditepian laut. Pasir membentang halus, putih bersih. Warna pink akan tampak jelas di pagi hari. Beberapa penyuka kegiatan memancing menyiapkan kail. Perahu tertambat di bibir pantai menunggu mereka untuk menangkap buruannya.

Pohon sengon kering masih berbaris, tanpa daun dan buah coklat yang masih enggan terjatuh. Sebuah goa yang dipasangi pintu gerbang jadi saksi keliaran masa muda. Situasi yang tidak jauh berbeda dari tahun ketahun di bulan yang sama.

Sebentar lagi air laut akan surut, matahari akan tenggelam dan membawa warna pink kembali ke pasir yang membentang.

“berapa, Wak?” tanya laki-laki itu pada penjual.

“Rp. 30 ribu saja,” jawab si penjual di warung bamboo.

Membawa bungkusannya, lelaki itu naik keatas sepeda motor butut menuju Berugak yang menjadi markas mereka.

Rp. 30 ribu berkahnya telah diserahkan kepada penjual di kopi, Rp. 30 ribu untuk kebersamaan melewati kekeringan gersang, menunggu senja dengan harapan membawa berkah entah uang entah hujan.

Rp 30 ribu yang tersisa, enatah cukup sampai dimana memenuhi kebutuhan hidup.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s