Reklamasi di Sebuah Warung part 2end.

Kronik 3 sahabat.

IMG_1470

“Ini kecapnya,” kata sang ibu yang tiba-tiba sudah menyodorkan kecap.

“Terima kasih, Bu,” Sangguinus menjawab, merogoh kecap dan menuangkan ke nasi goreng.

“Kau tau apa alasan reklamasi itu?” tanya Paijo.

“Alasan hanya sebuah pembenaran Jo, tak akan ada artinya,” jawabku.

“Tapi paling tidak harus di dengarkan.” balas Paijo.

“Iya, dia berhak untuk memberi alasan. Alasannya sebagai semacam pencegahan untuk kemungkinan bahaya tsunami” jawab Sangguinus.

“Ahhhhhhh…. yakin? Aku tidak tahu Bali punya riwayat tsunami. Setahuku pulau ini akrab dengan gunung meletus, dan gempa,” Paijo terkejut.

“Gempa kan pemicu tsunami, Mas,” kataku.

“Emang pulau itu nantinya tidak akan berpenghuni?” tanya Paijo.

“Berpenghuni lah. Hanya sekitar setengahnya digunakan untuk konservasi bakau. Sisanya pasti komersillah,” Sangguinus menjawab sambil menyeruput es teh. Mungkin nasi itu sudah hampir membuatya tersedak, karena terlalu bersemangat melahapnya.

“Berarti mereka mau memakai orang-orang yang tinggal di daratran baru itu sebagai tumbal untuk melindungi penduduk di Bali?” kejar Paijo. ”Tak ada alasan yang lebih masuk akal?”

“Itu kan kalo ada tsunami, kalo tidak kan mereka bisa hidup tenang disana,” kataku.

“Alasan lain, ya karena Bali merupakan sebuah pulau kecil dengan penduduk yang terus bertambah, perkembangan pariwisata yang mengancam keberadaan lahan pertanian dan pembuatan destinasi wisata baru yang nantinya mungkin menjadi ikon wisata yang mampu menyerap tenaga kerja,” ucap Sangguinus sebelum memasukkkan nasi goreng ke dalam mulutnya.

“Kau tau alasan itu dari mana?” tanyaku.

“Baca di tulisannya Pak Gubernur. Dia bikin tulisan di sebuah media online,” kata Sangguinus.

Aku tersenyum “Liat kawanmu Jo, dia mulai up to date.”

“Itu bagus, dari pada kamu. Cuma baca komik doang!” ungkap Paijo meledek kebiasaanku. “Masuk juga alasannya. Manusia akan terus berkembang biak, tetapi daratan kan malah berkurang. Jadi apa salahnya membuat pulau baru, toh di negara lain udah ada pulau buatan, bahkan monyet di zaman Ramayana saja menimbut lautan untuk membuat jembatan,” tambah Paijo.

“Jika pertambahan penduduk, migrasi dan urbanisasi dijadikan alasan, berarti reklamasi bisa dijadikan agenda tetap pemerintah dong? Setiap beberapa puluh kelahiran, atau beberapa ribu peningkatan kepadatan penduduk, maka dilakukan pembuatan daratan baru sebesar sekian hektar dengan sekala perbandingan yang tetap,” kataku menanggapi, “Dan tak masalah juga jika aku menjual tanah warisan, toh pemerintah akan membuatkan daratan baru,” lanjutku.

IMG_0261

“Iya, kalo tanah itu di buat untuk kamu,” kata Sangguinus sambil tertawa. “Jika kita membuatkan dataran baru, itu akan memanjakan manusianya. Mereka tidak akan punya daya saing dan malah bisa semakin memicu mereka untuk beranak pinak, karena lahan yang semakin luas.”

“Bukankah tempat yang sempit dan penghidupan yang susah bisa memicu peningkatan daya tahan, dan kemampuan manusia untuk bertahan. Jadi bisa merangsang orang Bali mulai bermigrasi ke luar pulau, dan bertahan disana. Banyak orang Bali yang bisa bertahan di perantauan. Dan bahkan sukses disana, karena keterdesakannya di tanah sendiri pada masa sebelumnya.”

“Tapi bisa jadi juga berakibat mereka saling makan,” kata Paijo sambil menyuapkan nasi goreng terakhir ke dalam mulut. Piring itu benar-benar dibuat bersih. Bahkan seekor semut pun akan kecewa jika mencoba mencari makanan di piring itu.

“Kedewasaan dalam memilih yang akan menentukan itu,” ujarku pendek.

“Berapa hari kau tidak makan, Jo?” kata Sangguinus penasaran.

“Hehehehehehe…. Aku lapar sekali,” kata Paijo. “Reklamasi juga dianggap solusi dari penyelamatan lahan pertanian kan, dengan membuat daratan baru sehingga pembangunan hotel dll tidak mengancam lahan pertanian,” lanjutnya.

“Memangnya, di Bali sudah kekurangan hotel?” tanyaku. “Kau pergi ke desa-desa pun kini sudah mudah menemukan penginapan. Selain itu sekarang ada ratusan bahkan ribuan kamar untuk wilayah Bali selatan. Bali selatan udah tidak kekurangan akomodasi pariwisata, Jo.”

“Kecuali pemerintah benar-benar ingin menjadikan Bali semacam museum atau sirkus budaya,” Sangguinus menambahkan.

“Maksudmu?” tanya Paijo.

“dengan daratan baru itu, maka budaya hanya akan menjadi object. Wisatawan hanya akan menganggap tradisi, kesenian, upacara dan lain-lain sebagai bahan tontonan. Mereka tidak akan mau berinteraksi, tidak mau mengetahui bagaimana kita hidup dan menghargai bagaimana cara kita hidup,” kata Sangguinus. “Jadi mereka hanya akan menonton dan pulang seperti kau datang untuk melihat sirkus!’’

“Itu resiko saat memasukkan tradisi dalam industri,” tambah Paijo. “Saat masuk ke dalam industri, semua akan di jual, semua harus menghasilkan uang!”

“Mungkin itu memang adalah sebuah akibat dari perilaku manusianya yang memasukkan Bali dalam industri pariwisata. Tapi tentunya pemerintah tidak sepantasnya mengambil peran semakin menenggelamkan Bali kedalam jurang industri. Mereka harusnya bisa semakin menguatkan orang-orangnya sehingga mereka bisa membalikkan situasi. Sehingga orang datang ingin belajar, tidak hanya ingin menonton.”

“Bukannya dengan semakin majunya industri pariwisata maka lapangan pekerjaan semakin meningkat, dan ekonomi akan semakin baik?” Paijo mengejar.

“Semakin meningkat dalam konteks pekerjaan budak,” jawab Sangguinus sinis. “Lembaga-lembaga pendidikan instan, mereka menyiapkan pekerja dengan kecenderungan hanya menjadi pekerja tanpa tingkat sensitifitas kritis terhadap kondisi sosial, dan semakin membuat individu-individu matrealisme.”

“Dan penyediaan lapangan kerja, akan membuat mereka semakin berorientasi mengejar uang dengan cara yang cepat. Bukan menciptakan lapangan kerja atau atau jadi petani. Jadi akan sangat percuma punya lahan pertanian kalo ternyata anak mudanya semua kerja di pariwisata.”

“Dan apa kau tahu, Jo?” tanyaku, “Dampak sosialnya, pantai-pantai di Bali yang sudah di kuasai hotel atau restourant, mereka akan semakin melarang penduduk lokal kere seperti aku untuk bermain di pantai. Walau mereka hanya dapat izin pemanfaatan tapi bagi mereka izin pemanfaatan itu adalah bentuk lain dari izin kepemilikan.”

“Kau mau besok cucumu main di pantai di Bali, diusir satpam restosran?” tanya Sanguinus.

“Ya, tidak lah,” jawab Paijo. “Jadi kalian berdua tidak setuju dengan rencana itu?”

“Aku tidak!!” kataku tegas.

“Aku pun tidak, jika itu memang dilakukan maka daratan baru itu itu adalah perwujudan dari egoisme penguasa (pemerintah) dan kerakusan manusia,” jawab Sangguinus.

“Kau sendiri, Jo?”

“Aku sih tidak setuju. Karena kalau seperti kata Pak Gubernur, bumi itu luas, jadi buat apa bikin daratan, mending pindah aja ke daratan yang relatif lebih,” jawab Paijo sambil tertawa.

“Hahahahhahahahahahhaah…” kami berdua pun tertawa. Dasar orang konyol. Lalu kenapa ribut dari dari tadi.

“Berapa bu?” tanyaku.

“semua 25rb, mas?” jawab sang ibu.

“Ayo jalan, selak  magrib,” kata paijo dengan logat jawanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s