Tikus

image

Sebentar lagi musim hujan, air akan meninggi dan menggenang. Antara bahaya dan enggan saling mengintai. Tapi lapar tak bisa ditunda. Meski asap tak perlu mengepul namun mulut dan perut tetap harus disumpal.

Kreeeseekkk….. Suara dari tumpukan plastik dari bawah wastafel. “Apa itu? Tikus?” celetuk seorang lelaki yang sedang duduk di kursi, dengan kemeja terbuka dan kaus kaki yang masih dikenakan. Kunci mobil dan handphone berada di dekatnya, bersanding dengan tas penuh kertas. Bertanya dan menjawab sendiri, mencari sebuah penegasan.

“Iya, sekarang semakin sering mereka datang,” kata seorang wanita muda. Mengenakan daster kembang berwarna coklat, menghampiri dengan segelas air minum. Menyerahkannya pada si lelaki, lalu melangkah menuju remote dan mengganti saluran TV.

Si tikus ngeluyur lari seolah tak peduli, menghilag di balik almari baju. Lalu muncul lagi di ruang tamu. Kembali berlari, menghindari kaki-kaki meja. Melipir di tembok, mencari pintu keluar yang terbuka. Lalu pergi menuju halaman. Nampak sebuah pohon mangga kecil tumbuh di dalam pot, paling keliahatan diantara bunga-bunga semak dan rumput yang tak terawat di pojokan halaman. Si tikus menyelinap meninggalkan jalanan. Menyusuri got, mencari pematang sawah yang telah menjadi rumahnya.

“Nak, nak……,” panggil si Ibu yang baru datang. Ruangan temaram, sinar seadanya masuk menampakkan dinding yang berwarna coklat. Kemudian terdengar suara, diikuti anak-anaknya yang berdatangan. “Kalian kemana saja?” tanya si ibu.

“Kami tidak kemana-mana, Bu,” jawab si sulung.

“Ibu menghawatirkan kalian. Hujan sudah mulai dating. Di luar akan menjadi sangat berbahaya,”ujar sang ibu.

Rumput-rumput di pematang sawah basah. Beberapa hari belakangan hujan bergiliran dengan matahari menghias langit. Seperti seorang yang sakit jiwa, menangis dan tertawa seenaknya.

Sawah lengang, padi telah dipanen. Hanya menyisakan setumpukan jerami dan jejak kaki petani yang memanennya. Kini dari ribuan hektar, hanya tersisa sawah yang semakin sempit. Terhimpit perumahan yang mengikuti peningkatan populasi penghuninya.

“Nak, musim penghujan akan segera dating. Sebentar lagi air akan meninggi dan rumah kita bisa saja tenggelam. Kita harus menyingkir, pindah dar sini,” kata sang ibu memulai.

Anak-anaknya hanya diam, mendengarkan dengan seksama. Usia muda, kurang pengalaman membuat mereka harus belajar dari yang hidup lebih dahulu. Lagi pula mereka masih tergantung secara perut dari si ibu sehingga tidak ada hak suara, tidak pula ada pilihan.

Hujan gerimis mulai turun. Beberapa bagian sawah telah berlumpur, gembur oleh bocah-bocah yang masih mendapat keberuntungan bisa melihat dan bermaiin disawah. Petani memasukkan rumputnya ke dalam keranjang yang telah penuh, mengangkat dan meniti pematang menuju gubuk.

“Kita akan pindah kemana?” kata si sulung.

“Ada tempat di dekat sini, tempatnya lebih tinggi dan aman,” jawab si ibu. “Hanya kalian harus hati-hati, dan lebih waspada” lanjutnya.

“Disini musuh kita hanya kekejaman. Mereka yang kita takuti adalah yang akan membunuh kita untuk bertahan hidup, membunuh kita untuk menjadi makanan mereka,” urai si ibu. “Ditempat baru nanti tak ada yang memangsa kita, tak ada yang akan memakan kita. Pemangsa kita telah gemuk dan manja, sehingga tidak bergairah lagi memangsa kita.”

“Hanya saja, kita akan dihadapkan pada sebuah kelicikan, penuh perangkap dan siasat. Jadi nanti Nak, kalian hanya boleh makan apa yang ibu bawa, apa yang ibu berikan untuk kalian makan. Jangan memakan apapun yang kelihatannya lezat dan seperti disajikan untuk kalian. Karena itu adalah perangkap untuk membunuh kalian,” lanjut si ibu.

“Bagaimana dengan makanan yang sudah kita kumpulkan?” kata si bungsu.

“Jangan khawatir. Kita tidak perlu membawa makanan itu. Lagi pula jumlahnya sudah tidak seberapa. Dimana kita tinggal nanti, disana akan ada makanan. Jadi kalian tidak akan kelaparan. Disana bahkan banyak makanan yang lebih enak dari pada disini,” si Ibu menjelaskan.

“Tempat ini sebentar lagi juga tidak akan bisa lagi menyediakan makanan. Hanya akan ada air, dan penuh air, dan rumput yang akan menjadi subur. Jadi sementara kita pindah dulu, sampai musim hujan berhenti dan sawah-sawah ini kembali menyediakan apa yang kita butuhkan,” jelas si ibu.

“Kapan kita akan pindah?” tanya si sulung.

“Sekarang siapkan diri kalian. Bereskan tempat ini. Sehabis hujan reda kita akan berangkat!” perintah si ibu.

Anak-anaknya bergegas. Bergerak menuju tempat masing-masing, menikmati apa kenangan sudut ruangan yang menjadi milik mereka, sambil makan mengisi kalori untuk perjalanan mereka.

Matahari kian tenggelam, hujan telah reda. Lampu-lampu mulai manyala. Petani telah kembali ke rumahnya. Meninggalkan gubuk, meninggalkan rumput yang akan disantap sapi, dan keranjang kosong yang harus kembali diisi lagi besok.

Si ibu bergerak menuju ke pintu rumahnya, melihat sekitar, memastikan hujan telah benar-benar reda. Mendung masih menggelayut, menutupi bulan purnama yang ingin memamerkan keindahannya.

“Mari Nak, kita berangkat sekarang!!!!” perintah si ibu.

Anak-anak itu berbaris mengikuti langkah si ibu, di awal gelap, mencari tempat baru, harapan baru. “Kemana kita akan pergi?” kata si sulung.

“Ke arah cahaya yang ada di depan sana,” jawab si ibu sambil melangkah menyusuri pematang, air yang disekap rumput membasahi kaki mereka, membuat lumpur semakin mudah melekat.

Sorang lelaki sedang menghadap makanan yang dimasakkan istrinya. Kemejanya masih menggantung di kursi. Handphone berada di sebelah piring, bersebelahan dengan gelas tempat air minum. Sedang kunci mobilnya telah digantungnya. Seorang pelawak berkelakar dan diikuti tawa penonton terdengar dari televisi. Setelah suapan terakhir, si lelaki menegak tandas minuman digelasnya. Mebuka handphonenya lalu melangkah meninggalkan meja makan. Si istri merapikan meja makan, membawa piring dan sisa makanan mereka menuju wastafel.

Si laki-laki kemuadian berbaring di depan TV, menikmati acara. Perutnya mengelembung keatas kekenyangan. Si istri menyusul, berbaring disebelahnya, meraih remote dan membesarkan volume TV.

Pohon mangga dan rumput liar di halaman rumah basah, si ibu dan anak-anaknya masuk ke halaman, melewati rumput liar di bawah puhon mangga. Tidak ada suara keluar dari mulit mereka, hanya derap kaki tersamarkan volume TV, rasa lelah dan kekenyangan.

Si istri keluar dari kamar mandi, diliriknya sang suami yang ternyata telah pulas. Mengecilkan volume TV, si istri mengecup lembut suaminya, “Pak, pindah ke kamar yuk?”

Si lelaki mebuka matanya, seolah dia lupa kalau dia telah tertidur, lalu bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Si istri mematikan TV dan mengunci pintu rumah, mematikan beberapa lampu, lalu melangkah menuju kamar. Dilihatnya sang suami telah berbaring di ranjang. Baru saja si istri membaringkan kepalanya dibantal, ”Gredag….. gredag……gredag….!” Suara muncul dari langit-langit rumahnya.

“Kayaknya kita harus pelihara kucing,” kata si istri.

“Kucing sudah tidak berani sama tikus lagi. Pakek lem tikus saja!” sahut si suami, sambil memeluk dan menciumi istrinya.

#

Malam semakin larut, “Ini rumah baru kita,” si ibu menunjukkan. Diikuti suara riang anak-anaknya.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s