Wasiat Laron

mira

 

Lalu lalang jalanan didominasi oleh tubuh-tubuh lelah bekerja. Senja telah satu jam yang lalu terlewat. Malam belum cukup pekat untuk menegaskan benderang lampu. Sebuah pohon alpukat berdiri, daun-daun melata di kakinya, sesekali melompat tertiup angin. Kelopak bunga gugur didesak bakal buah yang sombong. Pintu geser sedikit terbuka, seorang lelaki duduk diantara rak-rak yang telah ditinggalkan isinya.

Aku terbang melintas masuk ke dalam ruangan itu. Ada lampu remang yang menarik perhatianku. Ruangan didominasi warna putih, dengan garis merah dan abu yang melintang mengelilingi dinding. Rak-rak berwarna biru berdiri perkasa dan besar.

Terbang rendah aku, menghindari kaki meja. Tak ingin menarik perhatian lelaki yang sedang diam, duduk menghadap guitar yang ada didepannya, pandangannya jauh. Suara berdendang, diiringi alunan music. Aku terbang rendah memutar, mencari sumber cahaya.

Keatas aku melihat, sebuah lampu terperangkap di langit-langit dalam sebuah lubang. Langit-langit yang tinggi, ruang yang tinggi, rak yang tinggi. Ku putuskan berhenti, mendarat di lantai putih dengan debu yang menyelimuti.

Di luar semakin dingin, gelap dan menakutkan. Cahaya menjadi begitu menarik dan menentramkan. Kesana semua tertuju, kesana semua ingin menuju.

Sayap kecil ini begitu lemah, rapuh dan mulai pegal melintasi debu-debu. Aku menyusiri lantai, sambil sesekali menatap sumber benderang yang ada di langit-langit ruang. Kaki meja, kaki kursi, kaki rak semua besar, menonjol, kaki-kaki raksasa yang nyata, mencolok dan tak bisa dihindari.

Lelaki itu bergerak. Aku waspada, bukan karna takut dia akan memakanku, tetapi takut jika langkahnya menginjakku. Mengambil sebatang rokok, dia melangkah menuju rak, dan duduk di susunan rak paling bawah, di dekat asbak yang penuh abu rokok.

Kini manusia itu berada di depanku, asap keluar dari mulutnya, hembusan angin menghancurkan formasi asapnya, terbang menghilang.

Coba ku kepakkan sayap-sayap ini, diantara pegal dan letih. Mencoba kembali terbang, sebelum cahaya itu menghilang, padam. Terbang dengan perlahan, sambil mata tertuju fokus pada cahaya yang ingin aku tuju, akan ku kerahkan segenap tenaga untuk mencapainya.

Kecepatanku mulai bertambah, perlahan beranjak naik dari lantai.

“Slep,” tiba-tiba aku merasa tubuhku merasa menabrak sesuatu. Ku kepakkan sayapku semakin cepat, untuk mendorong tubuhku lebih tinggi, tapi tubuhku tak bergerak. Semakin aku dorong, sepertinya benda itu semakin mengikatku, lekat, lengket.

Manusia itu masih duduk dihadapanku dengan rokoknya. Aku bisa melihat jelas urat-urat di kakinya, mencium aroma kakinya. “Sial apa ini, apa yang mengikatku!” rutukku dalam hati. Terus ku kepakkan sayapku. Aku melihak ke bawah dan lantai telah jauh di bawah. “Aku tersangkut, apa ini?”

Sayapku benar-benar letih. Aku diam menjuntaikan sayapku. Sayap kiriku terjuntai bebas, tapi sayap kananku seperti tertahan. Lengket, merekat. Aku melihat secara seksama, dan benang-benang halus tampak terentang, halus dan tak terlihat. “Sial, perangkap. Laba-laba licik sial!” pikirku.

Laba-laba binatang pemangsa yang licik. Dia akan memasang perangkap, jaring halus, lembut, dengan perekat lengket yang sangat menyiksa. Bagiku ini paling menakutkan dan paling tak ingin ku temui. Sayangnya aku terjebak dalam kondisi ini.

Cahaya masih benderang, aku metapnya. Pelan aku coba menarik sayap kanaku, sedikit bergerak tertarik, tapi benang itu mengikuti. Kembali ku coba lagi, sialnya masih sama tak mau lepas. Ku paksa mengepakkkan sayapku, menggetarkan benangnya dan berharap benang itu akan putus. “Sial, sayapku patah, benang ini liat sekali. Dasar binatang licik, laba-laba sial!” Huft, benar-benar sial.

Kaki manusia di depanku masih diam tak beranjak. Sayap kananku yang tipis telah lepas dari tubuhku, menggantung tertempel pada jaring perangkap sial ini. Aku kepakkkan sayap kiriku, jaring ini mau bergetar. “Sial…sial….! Tolong….. lepas kan aku!” teriakku sekuat-kuatnya.

Kaki itu tetap saja tak bergerak, masih diam dan malah tampak lelaki itu kembali menyalakan rokok. “Hai… tolong aku…!!” teriakku sambil terus mengepakkan sayap, membuat benang-benang jaring itu bergetar tambah keras, tapi tidak juga mau putus.

Aku keletihan, benar-benar letih. Kehilangan satu sayap. Dan masih mencoba mengepakan sebelah sayap yang terbebas, tak juga mampu melepaskan rekatan perengkap ini.

“Tolong…! Tolonglah aku….!!” teriakanku pun tak berguna. Tapi aku tak mau mati di perangkap sial ini. Aku terus berusaha menggerakkan sayapku sambil mencoba melepaskan tubuhku dengan menarik-narik badanku. Aku meronta-ronta, menggetarkan memberoktak melepaskan jeratan perangkap ini.

Ini memang benar-benar menguras tega, membuatku terengah-engah. Aku melihat cahaya itu masih diatas, terperangkap dalam lubang, dan benderang. “Bagaimana caranya agar bisa lepas dari jeratan perangkap sial ini?” tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba aku di kejutkan, jaring perangkap yang menjeratku tiba-tiba bergetar. Aku memandang sekitar, kaki itu masih diam, tak bergerak. Masih ada suara permani music yang melantunkan lagu pilu, seolah mengasihanianiku atas kesialanku.

“Apa yang membuat perangkap ini bergetar?” pikirku penasaran, “Kuharap akan ada yang melepaskanku.”

Getaran perangkap semakin keras, semakin bergetar, memantul, seperti di genjot, tetapi tetap saja tidak mau putus. “Aroma ini? Sial!” aku menoleh ke sisi kiriku. Seekor laba-laba berbulu datang. Kakinya gesit meniti tiap helai benang-benang perangkapnya, mendekatiku. Mukanya beringas, lapar.

Dia mendekat, semakin dekat. Aku meronta, menggerakkan sayapku sekuat sisa tenaga. Aku tak mau mati. Aku menatap lampu itu menyala, cahaya itu menungguku. Aku tidak mau mati. Aku meronta, menggelepar dan jaring perangkap itu semakin erat, semakin kuat.

Aroma binatang pemangsa itu semakin keras. Bulu-bulu dibadannya tampak semakin kasar. Kini jaraknya sudah sangat dekat. Aku masih meronta dan melihat kaki itu masih saja diam. “Tolong! Tolong lah aku!!” rontaku.

Suara kendaraan semakin jarang, gelap telah semakin menagaskan gemerlap lampu. Bintang bintang muncul, bulan sedang libur, semakin menegaskan gelap malam.

Asap kembali menyala dari mulut manusia itu. Kakinya sedikit bergeser, tapi tak berpindah. Aku malah berharap kaki itu menginjak, agar aku mati bersama si pemilik perangkap ini, laba-laba sial.

Laba-laba sekarang telah didepanku dan mengarahkan kaki berbulunya padaku. Bulu kasar dari kaki itu terasa di kulitku. Aku melihat jelas bagaimana bengis dan menyeramkan muka binatang ini, dengan taring dan raut laparnya.

Dengan kakinya itu, dia menarikku dalam cengkramannya, memutuskan benang-benang perangkap itu dan mengeretku ke sarangnya, tempat yang aman untuk makan. Aku menoleh kearah sayapku yang telah lepas, sayapku itu telah tertinggal, tertinggal semakin jauh.

Semakin jauh, aku diseret ke depan, kearah gelap di bawah rak tempat menusia itu duduk. Aku coba bergerak, badanku sudah kaku, sayapku sudah tak bertenaga, hanya mata ini masih mampu melihat, melihat cahaya yang terang dan berada diatas.

Mataku malihat kaki itu masih bergerak. Kini aku diseret di sebelah kaki manusia itu, menuju ruang gelap, sarang laba-laba pemangsa ini. Tiba-tiba kepala manusia itu menoleh kearahku, mata kami bertemu dia melihatku. Dia melihat aku diseret laba-laba sial ini.

Tiba-tiba kaki itu bergerak, wajah manusia itu semakin tinggi, tidak setinggi cahaya yang ingin aku tuju. Dia melihatku dari ketinggian, lalu melangkah membawa rokoknya, kembali menoleh padaku. Seketika suara yang berdendang itu hilang, ruangan ini menjadi senyap. Tempat gelap itu semakin dekat, sayapku yang lepas semakin jauh tertinggal masih di perangkap laba-laba ini.

Aku melihat cahaya masih di dalam lubang di atas sana. Aku tahu aku akan mati. Suara hening di ruangan ini, hanya gesekan bulu-bulu dari laba-laba sial, yang sedang berjalan menyeretku saja yang kurasakan.

“Plek!” tiba-tiba gelap, cahaya itu padam, ruangan jadi gelap, gelap gulita. “Gebleg…. Gbelg….,” suara bantingan yang keras lalu hilang, semua kembali sunyi, gelap, tak ada yang bisa kulihat.

Pasti manusia itu telah pergi, cahaya itupun telah padam, dan aku hanya merasa tubuhku masih dalam cengkraman kaki berbulu dan di seret laba-laba ini. Sebelum aku benar-benar mati dimangsa laba-laba sial ini, aku ingatkan pada kalian.

Waspada lah kalian, jangan terpaku pada cahaya, dan hanya menghindari benda-benda besar seperti kaki rak, meja dan kursi. Perangkap yang paling berbahaya dan yang sebenarnya adalah, yang halus, tak terlihat, perangkap licik pemangsa kita, jaring laba-laba.

Aku tak ingin ada yang senasib dengan ku. Aku tau aku akan mati. Cahaya yang ku lihat dan ingin aku gapai pun telah padam. Dan itu adalah cahaya terakhir yang akan kulihat di dunia ini. Aku tak ingin kalian, sesamaku, mati dengan cara yang sama, terperangkap jaring perangkap, makhluk sial berbulu kasar bengis, laba-laba licik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s