Nyepi: seandainya bisa jadi hari yang biasa saja.

image

Sebenarnya saya tak benar-benar ingin menulis ini, karena tidak akan berguna dan bisa jadi akan memicu rasa tidak suka kalian terhadap saya, dan tentu saja saya sebagai makhul social (kata ibu guru di zaman SD) sagat tidak menginginkan itu. Sayangnya saya ingin memberikan sesuatu untuk hari raya nyepi yang sudah 30n kali saya jalani. Sebenarnya saya ingin memberikan sesuatu yang lebih menarik, sehingga tak perlu repot-repot membaca apalagi harus mengerti. Tapi sayangnya kaki dan cuaca sedang tidak bersahabat sehingga membuat saya menyepi lebih awal sebelum hari raya itu tiba.
Apa yang menarik dari hari raya nyepi, yang menjadi sangat popular belakangan ini, terlebih lagi semenjak isu global warming memanas, nyepi menjadi sebuah hari yang dianggap memberikan kesempatan pada bumi ini untuk bernapas. Benarkah itu?? Tapi saya tidak mau ikut bicara itu.
Nyepi adalah hari raya bagi Umat Hindu, dan saya adalah umat Hindu, setidaknya itu yang tercantum di KTP saya (ingat tak ada yang bisa mengukur tingkat keagamaan seseorang). Saya menyebutkan ini bukan untuk apa-apa, hanya tidak mau kalian salah paham.
Saat kecil, Hari Raya Nyepi adalah hari yang saya tunggu-tunggu, tentu saja bukan karena Nyepi memberi kesempatan pada saya untuk merenungkan diri atau beribadah dengan taat, tetapi karena nyepi membebaskan saya dari segala tugas rumah dan sekolah, saya bisa tidur, makan, nonton tv, dan beberapa kesenangan lain. Tempat yang akan saya pilih untuk melalui Hari Raya Nyepi adalah rumah Kakek, karena sanak-sodara yang merantau akan pulang dan berkumpul disana dan hanya di sana saya bisa menonton tv (orang tua belum punya TV saat itu). Itu adalah nyepi dimata saya sebagi anak kecil, yang ingin merasakan bermalas-malasan selama satu hari.
Saat remaja nyepi menjadi sesuatu yang biasa, para sanak-sodara sudah menjalani Hari Raya Nyepa di rumah rantau masing-masing, siaran TV sudah semakin membosankan, sesekali hanya pergi ketempat tetangga yang kebetulan sedang berkumpul dan menghibur dengan bermain kartu (jika disebut judi takutnya ada yang tersinggung).
Lalu apakah kini Nyepi adalah hal yang menarik, jujur jawaban saya biasa saja, karena sekarang saya punya sedikit kebebasan untuk tidak melakukan apa-apa, hanya makan dan tidur untuk 1 atau 2 hari dalam satu bulan, (24 hari dalam satu tahun, karna malas adalah hak).
Ada yang menarik pada nyepi setelah melaluinya 30an kali, apa itu?
Siaran TV adalah hal yang pertama, saat ini, pada hari raya nyepi siaran TV benar-benar diputus, tidak ada siaran TV gratisan yang masuk Bali, tidak tahu TV berlangganan karena saya belum berlangganan. Jika melihat dari isi acara yang disiarkan oleh stasiun TV hal ini sangat bagus, karena paling tidak bali selama 24 jam dibebaskan dari provokasi informasi yang membuat tensi naik, dibebaskan dari gossip dan sinetron-sinetron tidak jelas, serta acara music yang membosankan.
Jika pengisolasian Bali dari siaran TV adalah dalam rangka mensukseskan amati lelanguan ( tidak mendengarkan hiburan) saya rasa itu adalah hal yang sia-sia. Hiburan adalah sesuatu yang sangat subjektif, ada yang terhibur dengan sebuah buku, dendangan musik, permainan kartu,dan setiap orang punya hiburannya sendiri-sendiri, dan bisa menghibur diri dengan caranya masing-masing. Selain itu beragam hiburan kini telah ada di genggaman melalui handphone pintar, mulai dari game, musik, video, dan film. Di zaman sekarang, mengisolasi seseorang adalah sesuatu yang sulit.
Hal yang kedua adalah ogoh ogoh, mudah dilihat tetapi susah mendefinisikannya, jadi menurut mbah Wiki(pedia), ogoh ogoh adalah seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Ogoh ogoh adalah bentuk festival seni public tahunan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.  Setiap banjar akan berlomba lomba membuat Ogoh ogoh, dan ini  telah menjadi ruang kreativitas pemuda-pemudi. Dengan menampilkan berbagai macam bentuk, mulai dari raksasa sampai dewa-dewi. Tak usah disangsikan jika melihat keindahan karya ogoh-ogoh. Hal positif yang tahun ini muncul adalah dengan diwajibkannya menggunakan anyaman bambu untuk rangka dari ogoh-ogoh oleh pemerintah kota Denpasar untuk ogoh-ogoh yang akan mengikuti lomba di tingkat Kota Denpasar, hal ini semoga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memulai lagi menanam bambu yang kini sangat jarang di jumpai di kota Denpasar.
Sayangnya ogoh ogoh tidak lagi sekedar adu kreativitas antar pemuda, tetap sudah menjadi adu gengsi. Biaya yang dihabiskan bahkan bisa mencapai belasan bahkan sampai puluhan juta. Memang Dana yang digunakan berasal dari sumbangan warga secara suka rela, tetapi tidakkah itu mubasir, untuk sebuah karya yang pada akhirnya akan dibakar. Belum lagi sebuah kejadian menarik terjadi disebuah mini market, tempat saya biasa berlangganan rokok. Sepasang pemuda berpakaian adat masuk, dengan nada marah, salah satu pemuda mengembalikan sumbangan yang telah diberikan pihak mini market tersebut, karena nominal yang di sumbangkan hanya Rp 100 ribu. Bagi pemuda itu sumbangan itu telah merendahkan mereka, dengan menganggapnya sebagai peminta-minta.  Bukan saya hendak membela si mini market, tetapi jika asasnya sukarela, maka dia berhak memberikan berapapun yang dia rela dan si penerima harus menerimanya dengan suka, atau sebaliknya. Ada unsur pemaksaan disana. Padahal ogoh ogoh hanyalah sebuah symbol, apalah artinya sebuah symbol jika tidak bisa dimaknai, seperti apa artinya sebuah agama tanpa kasih.
Klimaks ogoh ogoh adalah pawainya, bagaimana ogoh ogoh diarak dengan gong, suara petasan, aroma alcohol (tak bisa di hindari), keramaian karnaval. Seperti sebuah ajaakn marilberteriak sekeras-kerasnya hari ini karena besok kita harus diam, berpestalah hari ini, karna besok kita akan Nyepi. Mungkin seperti saat kita tahu besok akan mati, maka hari ini sebaiknya kita lakukan yang ingin kita lakukan.
Lalu hal terkhir dalah belanja, pasar dari tradisional sampai yang modern dari peken sampai swalayan, dari mini sampai super market, penuh pada hari sebelum nyepi. Orang-orang seolah ingin menimbun makanan untuk satu hari yang mengisolasi mereka didalam rumah, walaupun sebenarnya mereka tidak akan mati jika satu hari itu tidak makan (sedikit lapar dan bingung). Orang-orang seperti mengalami paranoid, sehingga memicu mereka mempersiapkan diri secara berlebihan untuk melalui satu hari, Hari Raya Nyepi. Seolah pada Hari Nyepi, perut mampu memakan semua yang telah dibeli pada satu hari sebelumnya. Tidak hanya makanan tetapi juga hiburan seperti dvd atau vcd film juga menjadi sasaran.
Menjadi biasa itu sulit
Mengisolasi Bali tanpa siaran TV bukan sesuatu yang akan mendewasakan umat yang merayakan Nyepi, dalam memaknai Hari Raya Nyepi. Ini seperti menutup semua rumah makan di bulan puasa. Jika tidak ada godaan maka pergolakan diri, dan pengendalian diripun tidak akan dibutuhkan. Sama seperti seorang yang tidak memiliki bahan makanan, dia tidak perlu perintah untuk puasa, sama seperti seseorang yang tak memiliki TV mereka tak butuh Nyepi untuk tidak menikmati hiburan. Selain itu membebaskan kepercayaan dari campur tangan pemerintah adalah hal yang harus dicoba. Sehingga orang melakukan sesuatu karna ingin melakukaknnya, bukan karena diperintah, tetapi jika ingin benar-benar mengisolasi Bali selama satu hari maka seharusya jaringan listrik dann telekomunikasi juga mati total.
Selain itu anggapan jika bumi bisa bernapas selama satu hari, mungkin benar, tetapi jangan lupa, beban kendaraan (yang hendak pulang kampung), beban pembakaran ogoh ogoh, beban kebisingan,  pada satu hari sebelum Hari Raya Nyepi, serta laju kendaraan (kembali ke kota) satu hari setelah Hari Raya Nyepi juga cukup besar. Saya setuju jika nyepi ada manfaatnya untuk  bumi, dan akan lebih bermanfaat jika sebelum dan setelah Hari Nyepi dilalui dengan biasa saja.
Hal lain lagi adalah kreativitas, pemuda-pemudi banjar  begitu bersemangat untuk berpartisipasi dalam menyukseskan Hari Raya Nyepi dengan Ogoh ogohnya, tetapi seolah hanya sebatas itu. Bisa dibayangkan jika kreativitas militant sampai memungut sumbangan dari pintu-kepintu tidak hanya untuk kegiatan yang hanya bisa dinikmati oleh public secara jangka pendek (1 bulan jika mengikuti sedari proses), tetapi juga untuk kegiatan yang bisa dinikmati dan bermanfaat dalam jangka panjang, seperti membuat  taman bacaan, atau kegiatan social lainnya.
Bagaimana pun Hari Raya Nyepi adalah Hari Raya yang pasti dilalui setiap tahun utamanya bagi yang tinggal di Bali, dan pilihan bagi yang tinggal di luar sana. Mengembalikan Nyepi menjadi Hari yang biasa perlu dicoba. Biasa dalam koteks menyikapi sehingga tidak ada yang berlebihan, baik dalam menyambut, apalagi sampai paranoid. Dan menjadikan kesederhanaan dan kesahajaan Nyepi menjadi hal yang biasa dalam keseharian.
Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1937. Semua bernapas setiap hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s