Reklamasi di Sebuah Warung part 1.

Kronik 3 sahabat.

IMG_8872

Matahari bersinar begitu terik, debu-debu bermain liar, terbang bebas. Lama hujan tidak turun. Dan angin berembus kencang, seolah memanjakan debu-debu. Membiarkannya bermain. Jalanan lebar penuh sesak dengan berbagai macam kendaraan.

“ Jo, kita nyari makan siang dulu. Aku lapar sekali!” pintaku pada Paijo untuk mencari warung yang bisa memberikan sepiring penuh nasi dan lauk.

“Mau makan apa?” tanya Paijo.

“Apa aja, yang penting bisa bikin kenyang,” jawabku pendek.

Sangguinus terlihat penat menghadapi kemacetan. Siang itu memang sangat panas, dan kemacetan semakin menguras energi.

“Ya udah, disini aja kalau begitu,” kata Paijo sambil mengambil haluan kekiri dan berhenti di gundukan pasir.

“Kau pikir aku akan makan pasir?” tanyaku.

“Katanya sembarang, ya udah,” sahutnya sambil tersenyum, melepaskan helm dan melihatku. “Tidak usah emosi, itu ada warung makan.” sebuah warung yang berada berdampingan dengan gundukan pasir, sedikit terhalang mobil truk yang parkir.

“Huuufff… kau tau panas dan lapar bukan waktu yang tepat buat bercanda,” jawabku.

“Dan marah tidak akan membuatmu kenyang,” jawabnya terrsenyum dan melangkah menuju warung.

Meja di dalam warung tampak lengang. Aku memilih meja di tengah. Menarik kursi plastik biru, membelakangi gundukan pasir. Di depanku tampak bergantung dua buah lukisan, satu adalah lukisan abstrak dengan warna pudar, dengan tanda tangan pelukisnya. Disebelahnya lukisan dua ekor burung ungu pudar terbang mengelilingi bunga. Kesamaan kedua lukisan itu adalah debu yang menyelimuti dan sama-sama tak terawat.

“Mau pesan apa?” tanya seorang lelaki paruh baya dengan kaos polo berwarna hijau lumut, begitu kami duduk dan selesai menaruh tas ransel di lantai.

“Kau mau makan apa?” tanya paijo.

“Aku nasi goreng,” jawabku.

“Dengan es teh manis,” jawab Sangguinus.

“Iya, tunggu sebentar ya,” bapak itu menanggapi pesanan kami sambil tersenyum. Senyum yang mencul di bawah kumis yang sepertinya rajin di rapikannya.

Deru kendaraan sambung menyambung. Sesekali pemuda menggeber kenalpotnya yang memekak telinga. Sesekali klaksot menyalak. Dan tiba-tiba sirine iring-iringan pejabat lewat. Sangat bervariasi sekali jalan raya sekarang.

“Ini es tehnya,” kata seorang ibu-ibu sambil memindahkan se teh dari nampannya ke meja.

Ternyata yang memasak makanan adalah si bapak yang tadi menyambut. Sebuah bentuk emansipasi. Atau karena memang sebenarnya laki-laki memasak lebih enak dari pada wanita. “Terima kasih, Bu,” jawabku secara sepontan.

Sebuah koran lusuh di atas jejalan krupuk.Wajah gubernur yang terpampang di koran. Kata Reklamasi terpampang diatasnya.

“Tumben aku mamperhatikan pak gubernur, dan ternyata ganteng juga. Ramai sekali isu reklamasi ini ya?” Paijo berkata.

“Iya, pemerintah mau bikin daratan baru di Tanjung Benoa,” sambungku, sambil memeriksa pesan masuk di HP.

“Dia mengundang semua elemen untuk berdialog tanggal 3 Agustus. Berarti sudah lewat ya?” tanya Paijo.

“Iya lah Jo, sekarang sudah tanggal 8 Agustus. Emang itu koran kapan sich?” tanyaku.

“Ha..ha..ha.. ini koran bulan Juli. Kau datang Sangguinus ke acara itu?” tanya Paijo.

Sambil meminum es teh yang termangu di depanku, aku menoleh menunggu jawabannya Sangguinus.

“Tidak, ada acara lain,” jawab Sangguinus.

“Pasti acara dengan perempuan.” Kata-kata yang spontan membuat muka Sangguinus merah. “Apa lagi lantas yang bisa menahanmu selain perempuan,” balas Paijo sambil tersenyum.

“Tapi aku lihat video debat terbuka itu. Tampak seorang profesor dan seorang aktifis lingkungan menyerang pemerintah tentang terbitnya SK Gubernur terkait reklamasi ini,” katanya seolah ingin mengalihkan topik dari siapa perempuan yang bisa menahannya tersebut. “Dan reaksi gubernur menanggapi pertanyaan itu membuatku jengkel!”

“Kau ingat tentang analogi air dalam gelas yang dimasukan jeruk?” tanyanya padaku.

Kami pernah membicarakan tentang reklamasi ini sebelumnya, dan dia menganalogikan proses reklamasi itu seperti memasaukkan benda padat kedalam air yang bisa memicu peluapan air.

“Iya aku ingat, ada apa dengan itu?” tanyaku.

“Mungkin ada peserta yang menggunakan perumpamaan seperti itu tapi menggunakan wadah baskom. Gubernur itu dengan ekspresi dan nada bicara meremehkan berkata, ‘bumi itu bukan baskom, bumi itu luas, jadi luapannya akan kemana-mana tidak hanya di sini saja. Mungkin yang menggunakan teori baskom itu wawasannya sebatas itu’. Itu jawaban memuakkan,” jawab Sangguinus dengan asap rokok mengepul dari mulutnya.

“Kau marah karena teorimu di patahkan?” tanya Paijo.

“Bukan karena itu Jo, kau tak mengerti. Bagaimana mungkin orang mau belajar tentang bumi jika tentang air baskom saja dia enggan mempelajarinya.” Sangguinis melanjutkan “Kau tau laut itu satu lembar, daratan itu terhubungkan dengan laut, artinya apapun yang terjadi di belahan lautan lain akan mempengaruhi tinggi permukaan laut disini, seperti perubahan iklim, pencairan es di kutub dll.”

“Newton juga belajar dari apel yang jatuh untuk menemukan teori gravitasi Jo,” tambahku.

“Ekspresinya dalam menjawab itu juga seperti merendahkan pendapat orang lain,” sambung Sangguinus.

Paijo memandang Sangguinus, “Kenapa kau malah menyoroti sikap si gubernur?”

“Kenapa? Karena, satu, dia itu pemimpin, gubernur lagi, yang akan menjadi teladan yang dipimpimnya. Dua, dia itu publik figur populer sejak Bom Bali I. Tiga, dia itu orang tua, harusnya punya kebijakan dan wawasan, asam garam hidup yang dilaluinya akan membuat dia cukup bijak dalam bersikap dan merespon pendapat,” jawab Sangguinus.

“Aku setuju. Dia orang tua, kita menghormatinya karena asam garam hidup yang dilaluinya, keliru bersikap akan menunjukkan selama hidupnya dia hanya membuang sampah saja.

 

Jika dia tidak bisa menunjukkan kebijakan dalam bersikap, maka mungkin sampah yang dibuangnya lebih banyak dari asam garam hidup yang dimakannya,” jawabku menambahkan.

“Tapi dia seorang pemimpin, dan itu artinya dia harus tegas dan keras!” sergah Paijo, sambil kembali menyalakan sebuah rokok. “Jadi dia berhak mengambil keputusan yang berkaitan dengan daerah yang dipimpinnya. Siapa tau ini merupakan sebuah gebrakan yang tidak populer tapi dibutuhkan oleh daerahnya.”

“Aku setuju dengan itu, tapi bukan berarti otoriter dan merendahkan pendapat orang,” sanggahku. “Tentu sebagai seorang kepala daerah dia berhak membuat keputusan. Tetapi harus dengan alasan yang jelas. Apalagi ini tentang Reklamasi Jo, lautan yang ingin di jadikan daratan, sekitar 800ha lagi!”

Ibu-ibu setengah baya berjalan ke arah kami, dengan membawa nampan berisi nasi goreng, memberi jeda perdebatan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..Bersambung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s